
IDENESIA.CO – Gelombang desakan untuk menaikkan pajak bagi kalangan superkaya kembali menguat di tingkat global.
Hampir 400 jutawan dari 24 negara menyerukan pajak lebih tinggi bagi superkaya untuk menekan ketimpangan dan melindungi demokrasi.
Seruan disampaikan lewat surat terbuka bertepatan WEF 2026, ditandatangani Mark Ruffalo, Brian Eno, dan produser film Abigail Disney.
“Kami menyadari kekayaan ekstrem telah merenggut segalanya dari orang lain. Tidak diragukan lagi bahwa masyarakat sedang berada di ambang kehancuran,” bunyi pernyataan dalam surat terbuka tersebut, dikutip Senin (26/1/2026).
Kekayaan Ekstrem Mengancam Demokrasi Global
Dalam surat itu, para jutawan menilai segelintir elite global dengan kekayaan ekstrem telah menggunakan kekuatan finansialnya untuk membeli pengaruh politik, menguasai pemerintahan, hingga membungkam kebebasan pers. Kondisi tersebut bernilai sebagai ancaman serius bagi demokrasi dan stabilitas sosial di berbagai negara.
Mereka mendesak para pemimpin dunia untuk mengambil langkah konkret dalam mengurangi kesenjangan antara kelompok superkaya dan masyarakat luas. Salah satu kebijakan utama yang menjadi sorotan adalah penerapan pajak yang lebih tinggi terhadap kekayaan besar.
WEF 2026 Jadi Panggung Kritik Ketimpangan Ekonomi
Momentum WEF 2026 menjadi wadah untuk menyuarakan kritik terhadap ketimpangan ekonomi global yang kian melebar. Dalam forum tersebut, isu pajak kekayaan dan konsentrasi aset di tangan segelintir orang kembali menjadi sorotan utama.
Organisasi nirlaba Oxfam, seperti kutipan dari theguardian.com, juga menyerukan pengenaan pajak kekayaan global. Oxfam melaporkan jumlah miliarder dunia telah melampaui 3.000 orang sepanjang 2025, di tengah meningkatnya kesenjangan ekonomi dan krisis layanan publik di banyak negara.
Survei Jutawan G-20: Superkaya Bisa Membeli Pengaruh Politik
Sementara itu, survei yang untuk kelompok Patriotic Millionaires menunjukkan kekhawatiran serupa. Jajak pendapat terhadap 3.900 responden dari negara-negara G-20 dengan aset lebih dari US$1 juta menemukan bahwa 77 persen responden percaya individu superkaya mampu membeli pengaruh politik.
Survei tersebut juga mencatat sekitar 60 persen responden menilai Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberikan dampak negatif terhadap stabilitas ekonomi global. Lebih dari 60 persen responden lainnya menyatakan kekhawatiran bahwa kekayaan ekstrem menjadi ancaman nyata bagi demokrasi.
Dukungan Pajak Superkaya untuk Layanan Publik
Menariknya, dua pertiga responden survei tersebut mendukung kenaikan pajak bagi kelompok superkaya, dengan catatan dana tersebut alokasinya untuk perbaikan layanan publik, seperti pendidikan, kesehatan, dan perlindungan sosial.
Forbes sebelumnya melaporkan bahwa Donald Trump membentuk kabinet terkaya dalam sejarah Amerika Serikat setelah kembali terpilih sebagai presiden, dengan estimasi total kekayaan anggota kabinet mencapai US$7,5 miliar.
Seruan global ini menekan pemimpin dunia mereformasi pajak agar kekayaan tidak terkonsentrasi dan memberi manfaat luas bagi masyarakat.



