Sosok

Sejumlah Presiden Dunia Pernah Ditangkap AS, Ini Catatan Sejarahnya


IDENESIA.CO – Pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mengklaim telah menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan istrinya, Cilia Flores, memicu kejutkan global dan meningkatkan ketegangan geopolitik di kawasan Amerika Latin. Klaim tersebut muncul di tengah serangan yang menyebut Trump sebagai operasi “skala besar” terhadap Venezuela.

Hingga kini, pemerintah Venezuela menyatakan tidak memiliki informasi terkait keberadaan Maduro dan Cilia Flores. Situasi ini menimbulkan spekulasi luas sekaligus kekhawatiran internasional mengenai eskalasi konflik terbuka antara Washington dan Caracas.

Pemerintah Venezuela Minta Bukti Maduro Masih Hidup

Wakil Presiden Venezuela Delcy Rodriguez menyampaikan pernyataan resmi melalui pesan audio yang disiarkan televisi pemerintah pada Sabtu waktu setempat. Ia menegaskan bahwa pemerintah tidak mengetahui lokasi Presiden Maduro maupun istrinya.

Rodriguez menyatakan pemerintah Venezuela menuntut bukti konkret dari Amerika Serikat terkait kondisi Maduro dan Cilia Flores. Menurutnya, klaim sepihak tanpa verifikasi hanya memperkeruh situasi dan menimbulkan kepanikan publik.

Serangan Militer AS Picu Ketegangan Regional

Perkembangan ini terjadi di tengah meningkatnya aktivitas militer Amerika Serikat di Laut Karibia dan Samudra Pasifik timur. Pasukan AS berulang kali melancarkan serangan terhadap kapal-kapal yang diklaim membawa narkoba dari Venezuela serta menyerang area dermaga yang diduga menjadi jalur penyelundupan.

Washington menyebut operasi tersebut sebagai bagian dari perang melawan narkotika. Namun, Caracas menilai langkah itu sebagai agresi militer terselubung yang melanggar kedaulatan negara.

Penangkapan Maduro Ingatkan Intervensi AS di Masa Lalu

Klaim penangkapan Maduro mengingatkan dunia pada sejumlah kasus sebelumnya ketika Amerika Serikat menangkap atau menggulingkan pemimpin negara lain. Sejarah mencatat beberapa pemimpin dunia pernah mengalami nasib serupa akibat intervensi langsung Washington.

Berikut sejumlah pemimpin negara yang pernah ditangkap Amerika Serikat:

1. Manuel Noriega: Intervensi Langsung di Panama

Amerika Serikat menginvasi Panama pada 1989 untuk menggulingkan pemimpin militer Manuel Noriega. Washington menggunakan alasan perlindungan warga negaranya, praktik tidak demokratis, korupsi, serta perdagangan narkoba ilegal.

Sebelum invasi, AS mendakwa Noriega atas penyelundupan narkoba di Miami pada 1988. Noriega sebelumnya membatalkan pemilu 1989, memaksa Presiden Nicolas Ardito Barletta mundur, dan mengobarkan sentimen anti-AS.

Operasi militer di Panama menjadi yang terbesar sejak Perang Vietnam. AS membawa Noriega ke Amerika Serikat untuk diadili, memenjarakannya hingga 2010, sebelum mengekstradisinya ke Prancis dan akhirnya kembali ke Panama. Noriega meninggal di penjara Panama pada 2017.

2. Saddam Hussein: Pasca Invasi Irak

Pasukan Amerika Serikat menangkap Presiden Irak Saddam Hussein pada 13 Desember 2003, sembilan bulan setelah invasi Irak yang pimpinannya adalah Amerika Serikat. Washington saat itu berdalih Irak memiliki senjata pemusnah massal, klaim yang kemudian terbukti tidak berdasar.

Saddam ditemukan bersembunyi di sebuah lubang dekat Tikrit. Pengadilan Irak menjatuhkan hukuman mati atas kejahatan terhadap kemanusiaan, dan Saddam dieksekusi pada 30 Desember 2006.

3. Juan Orlando Hernandez: Sekutu yang Berbalik Arah

Kasus mantan Presiden Honduras Juan Orlando Hernandez menunjukkan dinamika hubungan kompleks antara AS dan sekutunya. Penangkapan Hernandez terjadi di Tegucigalpa pada Februari 2022 dalam operasi gabungan agen AS dan pasukan Honduras, tak lama setelah masa jabatannya berakhir.

Amerika Serikat mengekstradisinya atas tuduhan korupsi dan perdagangan narkoba. Pengadilan AS menjatuhkan hukuman 45 tahun penjara pada Juni 2022. Namun, Presiden Donald Trump memberikan pengampunan kepada Hernandez pada 1 Desember 2025.

Tak lama setelah pembebasannya, jaksa Honduras menerbitkan surat perintah penangkapan internasional, memicu kekacauan hukum dan politik baru di negara tersebut.

(Redaksi)

Show More
Back to top button