Internasional

Seniman Jepara Restorasi Enam Pilar Ukiran Masjid Istiklal Sarajevo

IDENESIA.CO – Seniman ukir asal Jepara, Jawa Tengah, mendapat kepercayaan untuk merestorasi ornamen kayu di Masjid Istiklal, Sarajevo, Bosnia dan Herzegovina. Pekerjaan ini mencakup penggantian enam pilar berukir yang mengalami kerusakan parah agar karakter ukiran khas Jepara tetap terjaga.

Tiga pengukir yang terlibat dalam pekerjaan tersebut ialah Sutrisno, Jawawi Firnandes, dan Widodo. Mereka mengerjakan sejumlah bagian ornamen di Jepara sebelum memasang hasil ukiran itu di masjid yang menjadi salah satu simbol hubungan Indonesia dengan Bosnia dan Herzegovina.

Proyek ini sekaligus mempertemukan keterampilan perajin Jepara dengan upaya merawat warisan seni ukir Indonesia yang telah menghiasi bangunan keagamaan di luar negeri selama puluhan tahun.

Sutrisno dan tim mengganti enam pilar berukir

Sutrisno menjelaskan bahwa enam pilar kayu di Masjid Istiklal Sarajevo mengalami kerusakan yang cukup parah. Kondisi tersebut membuat tim memilih mengganti seluruh pilar daripada menambal bagian yang rusak.

Menurut Sutrisno, penambalan berisiko menghasilkan karakter ukiran yang berbeda dari ornamen aslinya. Karena itu, penggantian secara menyeluruh menjadi pilihan untuk mempertahankan keseragaman detail dan bentuk ukiran.

“Kalau pilar itu diganti total. Karena kalau ditambal, nanti karakter ukirannya berbeda,” kata Sutrisno pada Rabu (28/9/2026).

Selain Sutrisno, Jawawi Firnandes dan Widodo turut berangkat ke Sarajevo untuk mengerjakan restorasi. Ketiganya membawa keahlian dalam seni ukir kayu yang berkembang di Jepara.

Sebelum pemasangan, mereka mengerjakan beberapa bagian ornamen di tempat produksi Jepara Carver, sentra industri ukir di Desa Senenang, Kecamatan Tahunan, Kabupaten Jepara. Setelah proses pengerjaan di Jepara, hasil ukiran tersebut kemudian dipasang di Masjid Istiklal.

Restorasi Masjid Istiklal berawal dari kunjungan Lestari Moerdijat

Keterlibatan pengukir Jepara dalam proyek tersebut bermula dari kunjungan Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat ke Bosnia dan Herzegovina pada Februari 2026. Saat itu, ia menjalankan rangkaian diplomasi budaya untuk mendukung pengajuan seni ukir Jepara sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO.

Dalam kunjungan tersebut, Lestari menemukan sejumlah ornamen kayu di Masjid Istiklal mengalami kerusakan. Ia kemudian menawarkan bantuan restorasi agar ornamen peninggalan perajin Indonesia itu tetap terawat.

Inisiatif tersebut mempertemukan kebutuhan pengelola masjid dengan keahlian pengukir dari Jepara. Setelah koordinasi berlangsung, Sutrisno, Jawawi Firnandes, dan Widodo berangkat ke Sarajevo pada 13 Oktober 2026 untuk menjalankan pekerjaan restorasi. Informasi keberangkatan mereka juga dikonfirmasi melalui pemberitaan ANTARA dan keterangan resmi MPR RI

Pekerjaan mereka tidak hanya mencakup enam pilar. Tim juga menangani bagian tangga dan sejumlah hiasan dinding. Dengan demikian, restorasi menyentuh beberapa elemen interior yang memperlihatkan keterampilan ukir Jepara.

Jejak ukiran Jepara dari era B.J. Habibie

Masjid Istiklal di kawasan Otoka, Sarajevo, memiliki hubungan historis dengan Indonesia. Pemerintah dan masyarakat Indonesia mendukung pembangunan masjid tersebut, yang diresmikan pada 2001.

Ornamen kayu khas Jepara di dalam masjid itu merupakan hadiah Presiden ke-3 RI, B.J. Habibie, bersama istrinya, Ainun Habibie, sebagaimana dijelaskan dalam bahan informasi dan pemberitaan mengenai restorasi tersebut. Karya itu menjadi bagian dari jejak hubungan Indonesia dengan Bosnia dan Herzegovina.

Kini, pengukir dari Jepara kembali menangani karya yang dibuat oleh pendahulu mereka. Namun, identitas dan alamat perajin yang menghasilkan ornamen asli tersebut belum berhasil ditelusuri, menurut informasi yang disampaikan dalam pemberitaan tentang misi restorasi.

Situasi ini menambah arti penting pekerjaan Sutrisno dan rekan-rekannya. Mereka tidak hanya mengganti bagian yang rusak, tetapi juga menjaga kesinambungan keterampilan yang telah diwariskan lintas generasi.

Ukiran Jepara dalam diplomasi budaya Indonesia

Restorasi Masjid Istiklal menunjukkan salah satu cara diplomasi budaya berjalan melalui keterampilan para perajin. Hubungan antarnegara tidak hanya terbangun melalui pertemuan pejabat, tetapi juga melalui karya seni yang digunakan dan dirawat bersama.

Bagi Jepara, keterlibatan tiga pengukir tersebut memperlihatkan penerapan keahlian lokal dalam proyek pelestarian di luar negeri. Seni ukir yang berkembang di sentra industri Jepara kembali mendapat peran dalam merawat bangunan yang memiliki hubungan sejarah dengan Indonesia.

Di sisi lain, pekerjaan ini berkaitan dengan upaya memperkenalkan seni ukir Jepara dalam pengajuan sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO. Keterlibatan perajin secara langsung memperlihatkan bahwa pelestarian tradisi membutuhkan keahlian, praktik kerja, dan regenerasi pengukir.

Keberlanjutan tradisi tersebut juga bergantung pada kemampuan perajin mempertahankan karakter karya lama saat melakukan restorasi. Dalam kasus Masjid Istiklal, keputusan mengganti enam pilar secara menyeluruh menunjukkan perhatian terhadap keseragaman karakter ukiran.

Bagi Sutrisno, Jawawi Firnandes, dan Widodo, pekerjaan di Sarajevo menjadi kesempatan menerapkan keahlian mereka untuk merawat ornamen kayu yang telah menghiasi masjid selama puluhan tahun. Sementara itu, bagi Jepara, proyek ini membawa keterampilan pengukir daerah tersebut kembali hadir dalam upaya pelestarian warisan budaya Indonesia di luar negeri.

(Redaksi)

Show More
Back to top button