
IDENESIA.CO – Keluarga almarhum Michael Bambang Hartono melakukan pengalihan kepemilikan saham kepada empat ahli waris setelah salah satu orang terkaya di Indonesia tersebut meninggal dunia pada Maret 2026. Nilai saham yang diterima setiap anak Michael Bambang Hartono diperkirakan mencapai sedikitnya US$2,93 miliar atau sekitar Rp52,36 triliun.
Melansir The Star, Kamis (13/8/2026), Michael Bambang Hartono meninggal dunia pada usia 86 tahun. Semasa hidup, Michael bersama saudaranya, Robert Budi Hartono, mengendalikan sebagian besar kepemilikan keluarga atas PT Bank Central Asia Tbk atau BCA melalui perusahaan induk PT Dwimuria Investama Andalan (PT DIA).
Warisan Michael Bambang Hartono Bernilai Miliaran Dolar
Berdasarkan dokumen pemerintah, sebanyak 49% saham Michael di PT DIA telah dibagi secara merata kepada empat ahli warisnya. Pembagian tersebut membuat masing-masing anak menerima bagian kepemilikan yang bernilai miliaran dolar.
Nilai kepemilikan Michael di PT DIA sendiri mencapai sedikitnya US$11,7 miliar atau sekitar Rp209,1 triliun berdasarkan nilai pada 11 Agustus 2026. Perhitungan tersebut hanya memperhitungkan kepemilikan PT DIA di BCA dan belum memasukkan berbagai aset bisnis keluarga lainnya.
Dengan pembagian kepada empat ahli waris, setiap anak memperoleh bagian yang nilainya diperkirakan sekitar US$2,93 miliar. Jika menggunakan kurs Rp17.872 per dolar AS, nilai tersebut setara dengan sekitar Rp52,36 triliun untuk masing-masing ahli waris.
Pengalihan tersebut menjadi bagian penting dari warisan Michael Bambang Hartono karena kepemilikan keluarga tidak hanya terkait dengan sektor perbankan.
Kepemilikan Keluarga Hartono Mencakup Berbagai Bisnis
Selain saham melalui PT DIA, anak-anak Michael juga tercatat memiliki kepentingan dalam berbagai bagian bisnis keluarga Hartono. Kerajaan bisnis tersebut memiliki kegiatan usaha di sejumlah sektor.
Bisnis keluarga pemilik PT Djarum antara lain mencakup industri rokok, pusat perbelanjaan, perdagangan elektronik, hingga perkebunan. Karena itu, nilai keseluruhan aset yang berpindah kepada generasi berikutnya lebih luas daripada nilai saham Michael di PT DIA.
Pengalihan tersebut juga menjadi salah satu proses transfer kekayaan keluarga terbesar di kawasan Asia dalam beberapa tahun terakhir. Nilainya bahkan disebut melampaui warisan yang ditinggalkan mendiang pendiri United Overseas Bank Ltd. Singapura, Wee Cho Yaw.
Warisan Wee Cho Yaw sebelumnya diperkirakan memiliki nilai sekitar US$10 miliar atau sekitar Rp178,72 triliun. Sementara itu, nilai kepemilikan Michael di PT DIA yang dihitung dari kepemilikan BCA saja sudah mencapai sekitar US$11,7 miliar.
BCA Catat Perubahan Pengendali Terakhir
Perubahan kepemilikan setelah wafatnya Michael juga tercermin dalam keterbukaan informasi BCA kepada Bursa Efek Indonesia. Bank tersebut menyampaikan adanya perubahan pemegang saham pengendali terakhir melalui perubahan struktur kepemilikan PT DIA.
Sebelum Michael meninggal, PT DIA dikendalikan oleh Michael Bambang Hartono dan Robert Budi Hartono. Setelah pengalihan saham kepada ahli waris Michael, Robert Budi Hartono menjadi pemegang saham pengendali terakhir PT DIA.
Persentase kepemilikan Robert Budi Hartono di PT DIA tetap sebesar 51% dari modal ditempatkan dan disetor. Perubahan tersebut tidak mengubah persentase kepemilikan Robert, tetapi mengubah struktur pengendalian terakhir perusahaan.
BCA juga menyampaikan bahwa pada 30 Juli 2026, perseroan menerima surat Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tertanggal 29 Juli 2026. Surat tersebut menginformasikan bahwa OJK telah mencatat perubahan struktur kepemilikan akhir BCA dalam administrasi pengawasannya.
Dengan perubahan tersebut, Robert Budi Hartono tercatat sebagai Pemegang Saham Pengendali Terakhir BCA. Proses ini menunjukkan bahwa wafatnya Michael Bambang Hartono tidak hanya berdampak pada pembagian aset keluarga, tetapi juga mengubah struktur pengendalian terakhir pada salah satu bank terbesar di Indonesia.
Pengalihan warisan Michael Bambang Hartono selanjutnya menjadi bagian dari proses peralihan kepemilikan bisnis keluarga kepada generasi berikutnya. Nilai aset yang berpindah menunjukkan besarnya skala kekayaan keluarga Hartono, terutama dari kepemilikan di BCA dan berbagai sektor bisnis lainnya.
(Redaksi)

