
IDENESIA.CO – Amerika Serikat menjalankan operasi militer rahasia ke Venezuela yang berujung pada penangkapan Presiden Nicolas Maduro. Operasi yang berlangsung pada Sabtu (3/1/2026) dini hari itu menandai eskalasi besar kebijakan Washington terhadap Caracas setelah jalur diplomasi menemui jalan buntu.
Presiden AS Donald Trump mengungkapkan bahwa ia sempat menelepon Maduro sepekan sebelum serangan terjadi. Dalam percakapan tersebut, Trump secara langsung meminta Maduro menyerahkan kekuasaan. Namun, Maduro menolak permintaan itu. Penolakan tersebut kemudian mendorong AS mengambil langkah militer.
Trump menyebut hasil operasi itu sebagai tindakan tegas setelah berbagai pendekatan sebelumnya gagal menghentikan krisis politik di Venezuela.
Operasi Absolute Resolve Disiapkan Secara Tertutup
Jauh sebelum serangan dimulai, Amerika Serikat telah menyiapkan operasi secara diam-diam. Mengutip BBC Internasional, AS membentuk tim kecil yang melibatkan agen intelijen CIA. Para agen itu menyusup ke lingkaran dalam pemerintahan Venezuela.
Melalui penyusupan tersebut, CIA mengumpulkan informasi rinci mengenai aktivitas harian Maduro. Agen memantau lokasi persembunyian, sistem keamanan, serta kebiasaan presiden Venezuela itu. Informasi tersebut kemudian menjadi dasar perencanaan operasi militer.
Pada awal Desember 2025, militer AS merampungkan rencana yang mereka beri nama Operasi Absolute Resolve. Seorang pejabat militer AS menyebut misi ini sebagai salah satu operasi paling berani pada masa pemerintahan kedua Donald Trump.
Latihan Militer Meniru Operasi Bin Laden
Selain mengandalkan intelijen, pasukan elit AS menjalani latihan intensif selama berbulan-bulan. Mereka menggunakan replika kompleks kepresidenan Venezuela yang dibangun berdasarkan data intelijen.
Model latihan ini meniru operasi militer AS saat membunuh Osama bin Laden pada 2011. Kala itu, pasukan AS juga berlatih menggunakan tiruan kediaman target di Abbottabad, Pakistan.
Seluruh rangkaian persiapan berlangsung sangat rahasia. Bahkan Kongres AS tidak memperoleh informasi terkait rencana tersebut. Militer hanya menunggu perintah langsung dari Presiden Trump.
Pasukan Siaga Menunggu Perintah Presiden
Jenderal Dan Caine mengatakan pasukan AS berada dalam kondisi siaga penuh selama beberapa pekan menjelang Natal dan Tahun Baru. Mereka menunggu momen yang dinilai paling tepat untuk bertindak.
Menurut Caine, presisi dan waktu menjadi faktor krusial dalam operasi ini. Begitu presiden memberi perintah, seluruh unit langsung bergerak sesuai rencana.
Serangan Dimulai Dini Hari di Caracas
Militer AS memulai operasi pada Sabtu dini hari. Dalam waktu dua jam dua puluh menit, pasukan AS melancarkan serangan terpadu melalui udara, darat, dan laut.
Ledakan pertama terdengar di Caracas sekitar pukul 02.00 waktu setempat. Kepulan asap tampak membubung dari sejumlah titik strategis. AS mengerahkan sekitar 150 pesawat, termasuk pembom, jet tempur, dan pesawat pengintai.
Selain itu, helikopter terbang rendah di atas kota. Rekaman video memperlihatkan helikopter bermanuver di tengah dentuman ledakan.
Seorang warga Caracas bernama Daniela mengatakan suara ledakan membangunkannya sekitar pukul 01.55. Ia menyebut kota gelap gulita dan hanya diterangi kilatan cahaya dari ledakan.
Infrastruktur Militer Jadi Sasaran
Serangan AS menyasar sedikitnya lima lokasi penting. Target tersebut meliputi Pelabuhan La Guaira, Pangkalan Udara Jenderal Francisco de Miranda, Bandara La Carlota, Bandara Higuerote, serta fasilitas Antenas El Volcan.
Pejabat AS menyatakan serangan itu menargetkan sistem pertahanan udara dan instalasi militer. Pada saat yang sama, Trump mengisyaratkan bahwa AS memutus aliran listrik di Caracas sebelum pasukan darat bergerak.
Menurut Trump, pemadaman listrik tersebut mempermudah pergerakan pasukan dan mempersempit ruang gerak pihak lawan.
Delta Force Pimpin Penangkapan Maduro
Unit elit Delta Force memimpin langsung penangkapan Nicolas Maduro. Mengutip CBS, pasukan ini membawa perlengkapan berat, termasuk obor las, untuk menembus pintu logam rumah persembunyian Maduro.
Pasukan Delta Force tiba di lokasi beberapa menit setelah serangan dimulai. Trump menggambarkan rumah persembunyian itu sebagai benteng militer di jantung Caracas.
Saat pasukan mendekat, mereka mendapat tembakan balasan. Salah satu helikopter AS terkena tembakan, tetapi tetap mampu melanjutkan misi.
Jenderal Caine menyebut pasukan bergerak cepat, tepat, dan disiplin saat menerobos kompleks tersebut.
Upaya Melarikan Diri Gagal Total
Trump mengungkapkan bahwa Maduro sempat mencoba melarikan diri menuju lokasi yang ia anggap aman. Namun, pasukan AS berhasil menggagalkan upaya tersebut.
Menurut Trump, pasukan Delta Force bergerak lebih cepat dari perkiraan Maduro. Mereka menerobos pintu baja sebelum Maduro sempat mengamankan diri.
Setelah penangkapan, AS segera mengevakuasi Maduro keluar dari Venezuela. Pada Senin (5/1/2026), otoritas AS menggiring mantan presiden Venezuela itu ke pengadilan New York untuk menghadapi dakwaan terkait narkoba.
(Redaksi)


