Advertorial

Walikota Samarinda Andi Harun Targetkan Pengurangan Sampah Perhari Melalui Inovasi dan Penggunaan Teknologi Insinerator di TPS

IDENESIA.CO – Pemerintah Kota Samarinda mengambil langkah strategis guna mempercepat penanganan volume sampah di wilayah perkotaan. Walikota Samarinda Andi Harun memimpin langsung upaya transformasi sistem pengelolaan sampah dengan mengandalkan inovasi teknologi terbaru. Pemerintah daerah memfokuskan pembangunan Tempat Penampungan Sementara (TPS) yang menyatu dengan mesin insinerator modern.

Langkah ini bertujuan memutus rantai ketergantungan terhadap Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) yang memikul beban sangat berat. Walikota Samarinda Andi Harun meninjau langsung kesiapan fasilitas tersebut di Kelurahan Baqa pada Kamis (26/3/2026). Beliau memastikan bahwa infrastruktur ini segera melayani kebutuhan pembuangan sampah masyarakat dalam waktu dekat.

Inovasi Teknologi Insinerator Ramah Lingkungan

Pemerintah memilih teknologi insinerator karena memiliki keunggulan dalam menjaga kelestarian ekosistem. Sistem pembakaran pada alat ini bekerja tanpa menggunakan cerobong asap konvensional yang melepaskan emisi berbahaya ke udara. Sebaliknya, mesin ini mengalirkan gas hasil pembakaran melalui proses filtrasi air yang sangat ketat sebelum membuangnya.

“Insinerator ini rancangannya menggunakan sistem pembakaran tanpa cerobong asap. Mesin tidak melepas emisi langsung ke udara, tetapi menyalurkannya melalui proses filtrasi air sehingga lebih aman bagi lingkungan,” jelas Walikota Samarinda Andi Harun kepada awak media saat meninjau lokasi.

Pemerintah kota memberikan perhatian besar pada aspek keamanan ekologis dalam pengoperasian fasilitas ini. Tim teknis akan menguji air hasil filtrasi secara berkala sebelum membuangnya ke saluran umum. Langkah ini menjamin bahwa seluruh parameter air sisa pembakaran memenuhi standar baku mutu yang pemerintah pusat tetapkan.

Target Operasional 10 Unit TPS Insinerator

Secara administratif, Pemerintah Kota Samarinda menargetkan pengoperasian total 10 unit TPS insinerator sepanjang tahun 2026. Fasilitas-fasilitas tersebut menempati berbagai titik strategis guna menjangkau seluruh wilayah kecamatan. Saat ini, pekerja telah menyelesaikan pembangunan fisik bangunan utama dan pemasangan mesin hingga mencapai tahap fungsional.

“Secara umum pembangunan sudah selesai. Kami tinggal menyelesaikan beberapa pekerjaan minor seperti penataan taman dan penghijauan. Namun dari sisi fungsi, fasilitas ini sudah siap beroperasi,” ujar Walikota Samarinda Andi Harun dengan nada optimis.

Meskipun konstruksi fisik sudah rampung, pemerintah masih menunggu penyelesaian beberapa tahapan administratif penting. Proses uji coba sistem atau commissioning secara menyeluruh menjadi syarat mutlak sebelum acara peresmian serentak. Tahapan hati-hati ini menjamin setiap mesin bekerja optimal dan tidak menimbulkan kendala teknis saat melayani pembuangan sampah warga.

Kapasitas Pengolahan Capai 500 Ton Sampah

Kehadiran teknologi ini membawa dampak besar terhadap statistik pengelolaan limbah di Kota Tepian. Setiap unit insinerator memiliki kapasitas mengolah sekitar 20 ton sampah dalam satu shift kerja selama delapan jam. Pemerintah berencana menerapkan skema operasional hingga tiga shift untuk memaksimalkan fungsi alat tersebut setiap harinya.

“Kalau menghitung kalkulasinya, kita bisa mengurangi sekitar 500 ton sampah setiap hari. Angka ini tentu sangat signifikan mengurangi beban sampah kota,” terang Walikota Samarinda Andi Harun.

Pengurangan volume sampah dalam jumlah besar tersebut secara otomatis memperpanjang usia pakai TPA Sambutan. Selama ini, TPA Sambutan menampung hampir seluruh sampah dari rumah tangga maupun industri di Samarinda. Dengan adanya pengolahan di tingkat TPS, arus sampah menuju TPA akan berkurang secara drastis dan sistematis.

Transformasi Pengelolaan di TPA Sambutan

Selain membangun infrastruktur baru di tingkat kecamatan, pemerintah kota juga membenahi manajemen internal di lokasi pembuangan akhir. Pemkot Samarinda secara resmi menghentikan penggunaan metode pembuangan terbuka (open dumping). Metode lama tersebut berisiko merusak ekosistem tanah serta mencemari air tanah di sekitarnya.

Sebagai gantinya, pemerintah menerapkan sistem pengelolaan yang lebih terkontrol dengan fokus pada penanganan air lindi. Infrastruktur pengolahan air lindi yang baru sudah berdiri tegak dan siap memproses cairan limbah agar tidak merusak lingkungan. Perubahan metode ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang pemerintah dalam menciptakan sistem persampahan hulu ke hilir yang terintegrasi.

“Sekarang kita sudah tidak menggunakan open dumping. Kami mengelola sampah dengan sistem yang lebih baik, termasuk mengaktifkan instalasi pengolahan air lindi yang sudah tersedia,” jelasnya kembali.

Namun, Walikota Samarinda Andi Harun mengingatkan bahwa penyediaan teknologi canggih memerlukan dukungan perilaku dari masyarakat luas. Inovasi pemerintah tidak akan memberikan hasil maksimal tanpa kesadaran warga dalam memilah sampah dari rumah.

“Upaya pemerintah ini membutuhkan dukungan kesadaran masyarakat. Karena sebesar apa pun fasilitas yang kami bangun, hasilnya tidak akan maksimal tanpa perubahan perilaku warga,” tegas Andi Harun sebelum mengakhiri keterangannya.

Melalui kombinasi antara penggunaan teknologi insinerator dan partisipasi aktif publik, Samarinda optimis mewujudkan lingkungan perkotaan yang lebih bersih. Pemerintah berkomitmen terus meningkatkan kualitas layanan publik demi menjadikan Samarinda sebagai kota yang layak huni dan berkelanjutan bagi semua orang.

(Redaksi)

Show More
Back to top button