
IDENESIA.CO – Majelis Nasional Vietnam secara bulat menetapkan Sekretaris Jenderal Partai Komunis Vietnam, To Lam, sebagai presiden negara tersebut untuk masa jabatan lima tahun ke depan. Keputusan ini mengukuhkan posisi Lam sebagai pemimpin paling berpengaruh di Vietnam dalam beberapa dekade terakhir karena ia kini memegang dua jabatan puncak sekaligus.
Parlemen mengumumkan hasil pemungutan suara pada sidang Selasa (7/4), di mana seluruh 495 anggota parlemen yang hadir menyatakan dukungan penuh terhadap nominasi tunggal Partai Komunis. Melalui hasil ini, To Lam terpilih sebagai Presiden dengan dukungan absolut, sementara lima anggota parlemen lainnya dilaporkan tidak hadir dalam sidang tersebut.
Fokus pada Stabilitas dan Kesejahteraan Rakyat
Dalam pidato pelantikannya di hadapan Majelis Nasional, Presiden To Lam menegaskan bahwa fokus utamanya adalah menjaga perdamaian dan stabilitas nasional. Menurutnya, dua aspek tersebut merupakan landasan utama bagi pertumbuhan negara yang cepat serta berkelanjutan. Ia berkomitmen untuk membawa dampak ekonomi langsung kepada masyarakat luas.
“Kami bertujuan meningkatkan kesejahteraan rakyat sehingga semua orang dapat menikmati manfaat dari pembangunan,” ujar To Lam dalam upacara pelantikannya.
Selain stabilitas domestik, To Lam terpilih sebagai Presiden dengan membawa visi kemandirian dalam sektor pertahanan. Ia menilai bahwa tujuan utama pemerintahannya adalah mendorong pembangunan nasional yang cepat sekaligus meningkatkan kualitas hidup rakyat di semua aspek.
Reformasi Birokrasi dan Model Ekonomi Baru
Selama menjabat sebagai pemimpin partai, To Lam telah melakukan langkah-langkah reformasi yang signifikan. Ia melakukan penyederhanaan birokrasi dengan menghapus delapan kementerian dan menggabungkan beberapa provinsi untuk efisiensi administratif. Langkah agresif ini bertujuan mempercepat proses pengambilan keputusan dalam pemerintahan.
Kini, setelah To Lam terpilih sebagai Presiden, ia mengusulkan model pertumbuhan baru yang memperkuat peran sektor swasta. Visi ekonominya menargetkan pertumbuhan dua digit setiap tahun selama lima tahun ke depan. Untuk mendukung hal tersebut, pemerintahannya terus mempercepat pembangunan berbagai proyek infrastruktur skala besar guna memodernisasi sistem ekonomi nasional.
Pergeseran Gaya Kepemimpinan di Vietnam
Penetapan ini menandai perubahan besar dalam peta politik Vietnam. Le Hong Hiep, peneliti senior dari ISEAS – Yusof Ishak Institute di Singapura, memberikan pandangannya mengenai posisi baru Lam. Menurutnya, pemusatan jabatan ini menjadikan Lam sebagai figur sentral dalam pembuatan kebijakan dan tata kelola negara.
“Langkah tersebut secara efektif menjadikannya sebagai pemimpin tertinggi Vietnam. Perubahan ini juga telah menggeser kepemimpinan negara dari model kolektif berbasis konsensus menuju gaya kepemimpinan terpusat ke satu figur,” kata Le Hong Hiep.
To Lam, yang kini berusia 67 tahun, memiliki latar belakang kuat di lembaga keamanan negara. Sebelum menduduki kursi kepemimpinan partai dan negara, ia menjabat sebagai Menteri Keamanan Publik sejak 2016. Selama masa jabatannya di kepolisian, ia memainkan peran krusial dalam mengawasi operasi keamanan dalam negeri serta memimpin kampanye antikorupsi pemerintah.
Setelah agenda pemilihan presiden selesai, Majelis Nasional juga menjadwalkan pemilihan perdana menteri baru. Pejabat baru tersebut akan menggantikan Pham Minh Chinh yang segera mengakhiri masa tugasnya. Pengisian jabatan ini melengkapi struktur kepemimpinan baru Vietnam di bawah kendali To Lam.
(Redaksi)






