Internasional

Katering Jemaah Haji Madinah Akan Sajikan Menu Tempe Otentik dan Rahasia 23 Bumbu Pasta Indonesia

IDENESIA.CO – Pemerintah Indonesia melalui Daerah Kerja (Daker) Madinah memastikan layanan katering bagi jemaah haji tahun 2026 tampil lebih istimewa. Para petugas fokus menghadirkan cita rasa nusantara yang kental guna memberikan kenyamanan maksimal bagi para tamu Allah selama berada di Tanah Suci.

Kepala Seksi Pelayanan Konsumsi Daker Madinah, Benny Darmawan, menjelaskan bahwa jemaah akan menerima layanan makan secara penuh. Setiap individu mendapatkan jatah makan sebanyak tiga kali sehari. Selama masa tinggal sembilan hari di Madinah, para jemaah akan menikmati total 27 kali hidangan katering dengan jadwal yang ketat.

“Insyaallah, jemaah akan mendapatkan makan tiga kali sehari. Tahun ini kami menekankan pada cita rasa otentik Indonesia,” ujar Benny saat memberikan keterangan di Madinah pada Minggu (19/4/2026).

Komitmen ini menjadi landasan utama pemerintah dalam menyeleksi dapur penyedia jasa konsumsi.

Kehadiran Menu Tempe pada Katering Jemaah Haji Madinah

Salah satu daya tarik utama dalam daftar menu tahun ini adalah kehadiran tempe secara rutin. Pemerintah menjadwalkan menu tempe muncul sebanyak lima kali dalam kurun waktu sepekan. Langkah ini bertujuan untuk mengobati kerinduan jemaah terhadap makanan khas rumah yang bergizi tinggi.

Dapur-dapur katering pun melakukan persiapan khusus untuk menyediakan stok tempe segar. Salah satunya adalah dapur Meez Marry yang merupakan satu dari 23 mitra dapur resmi pemerintah. Mereka memilih memproduksi tempe secara mandiri di fasilitas mereka untuk menjaga kualitas bahan baku.

Abdurrahman, selaku koki utama di Katering Meez Marry, mengungkapkan alasan di balik produksi mandiri tersebut. Menurutnya, permintaan jemaah terhadap tempe dan tahu sangatlah tinggi setiap tahunnya.

“Kami memproduksi tempe sendiri agar kualitas dan ketersediaannya terjaga. Selain melayani haji, kami juga melayani jemaah umrah,” jelas Abdurrahman.

Rahasia Bumbu Pasta dan Standar Masakan Indonesia

Untuk menjamin konsistensi rasa di puluhan dapur yang berbeda, pemerintah menerapkan standarisasi bumbu yang sangat ketat. Pihak katering wajib menggunakan 23 jenis bumbu pasta asli yang didatangkan langsung dari tanah air. Kebijakan ini memastikan rasa rendang atau ayam woku di satu dapur akan identik dengan dapur lainnya.

Benny Darmawan menegaskan bahwa distribusi bumbu ini telah mencapai tahap final. Petugas telah mengirimkan seluruh stok bumbu ke dapur-dapur rekanan.

“Bumbunya sudah tiba di dapur-dapur, tinggal pakai. Jadi, meski dimasak di dapur berbeda, rasanya akan tetap sama,” tegas Benny.

Meski sudah tersedia bumbu pasta, beberapa koki tetap memberikan sentuhan tambahan agar aroma masakan lebih kuat. Dapur Meez Marry, misalnya, tetap memasukkan bumbu dapur segar dalam setiap olahan. Mereka menambahkan serai, lengkuas, daun jeruk, hingga kunyit segar untuk memperkaya profil rasa hidangan katering jemaah haji Madinah.

“Untuk memperkuat rasa, kami menyediakan bumbu segar sendiri yang didatangkan langsung dari Indonesia,” tambah Abdurrahman.

Penggunaan koki asli Indonesia juga menjadi syarat mutlak dalam kontrak kerja sama. Setiap dapur minimal mempekerjakan dua koki utama dan empat asisten masak dari Indonesia guna menjaga autentisitas rasa nasi goreng kampung hingga masakan daerah lainnya.

Layanan Fleksibel untuk Lansia dan Pengawasan Keamanan Pangan

Selain fokus pada rasa, pemerintah juga melakukan evaluasi besar pada sistem distribusi makanan bagi jemaah lansia. Berbeda dengan tahun lalu yang menggunakan sistem paket persentase, tahun ini layanan menu lansia menggunakan sistem berdasarkan permintaan (by request).

Petugas akan menyiapkan bubur atau lauk dengan tekstur lunak hanya bagi jemaah yang benar-benar membutuhkan. Langkah ini secara efektif mengurangi potensi makanan terbuang sia-sia atau mubazir di penginapan. Tim medis dan petugas konsumsi bekerja sama untuk mendata kebutuhan khusus setiap kloter.

Dalam hal keamanan, pemerintah menerapkan sistem pengawasan berlapis pada layanan katering jemaah haji Madinah. Petugas melakukan pengecekan di tiga titik krusial, yaitu dapur produksi, Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI), serta sektor pemondokan jemaah. Pengawasan ketat ini bertujuan mencegah peredaran makanan yang kedaluwarsa atau tidak layak konsumsi.

Saat ini, seluruh persiapan di lapangan telah mencapai titik maksimal. Gudang-gudang penyimpanan telah terisi penuh dengan bahan baku berkualitas. Sebanyak 22 tenaga inti Indonesia di dapur Meez Marry siap melayani sekitar 10.000 jemaah yang akan tiba pada kloter pertama. “Kami pastikan semua siap melayani jemaah dengan standar terbaik,” pungkas Benny dengan optimis.

(Redaksi)

Show More
Back to top button