
IDENESIA.CO – Indonesia tidak hanya menjadi pengguna teknologi dari negara lain. Sejumlah inovasi dalam negeri justru telah mendapat tempat di berbagai negara. Teknologi Indonesia mendunia melalui berbagai sektor, mulai dari konstruksi, penerbangan, mitigasi bencana, hingga sistem pembayaran digital.
Perkembangan tersebut menunjukkan kemampuan Indonesia dalam menghasilkan inovasi yang memiliki manfaat luas. Beberapa teknologi bahkan telah digunakan di luar negeri selama bertahun-tahun.
Dari berbagai sumber, terdapat sedikitnya empat inovasi Indonesia yang memiliki jangkauan internasional. Keempatnya mencakup teknologi Sosrobahu, pesawat CN235, sistem InaTEWS, dan QRIS Antarnegara.
Sosrobahu Bawa Teknologi Indonesia Mendunia
Insinyur Indonesia Tjokorda Raka Sukawati menciptakan teknologi Landasan Putar Bebas Hambatan (LPBH) atau Sosrobahu. Inovasi tersebut membantu pembangunan jalan layang dengan mengurangi gangguan terhadap lalu lintas di bawahnya.
Teknologi ini memungkinkan pekerja memutar bagian kepala tiang atau pier head setelah mereka menyelesaikan proses pembangunan pada posisi tertentu. Metode tersebut membuat pembangunan jalan layang dapat berlangsung tanpa menutup seluruh jalur kendaraan di bawahnya.
Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat mencatat penggunaan Sosrobahu di sejumlah negara. Filipina, Thailand, Malaysia, dan Singapura termasuk negara yang memanfaatkan teknologi konstruksi tersebut.
Filipina bahkan menggunakan teknologi Sosrobahu dalam pembangunan salah satu jalan layang panjang di negaranya. Pemanfaatan itu memperlihatkan kemampuan inovasi konstruksi Indonesia dalam menjawab kebutuhan proyek infrastruktur di luar negeri.
CN235 Perluas Jejak Penerbangan Indonesia
Industri penerbangan juga membawa teknologi Indonesia mendunia melalui pesawat CN235. IPTN, yang kini bernama PT Dirgantara Indonesia atau PTDI, mengembangkan pesawat tersebut bersama perusahaan Spanyol CASA yang kini menjadi bagian dari Airbus Defence and Space.
Kedua perusahaan membentuk perusahaan patungan Aircraft Technology atau Airtech pada 17 Oktober 1979. Pengembangan CN235 kemudian berlangsung mulai 1980.
CASA menerbangkan prototipe bernama Elena untuk pertama kali pada 11 November 1983. Pada Desember tahun yang sama, IPTN menerbangkan prototipe buatannya yang bernama Tetuko.
Produksi serial CN235 dimulai pada 1986. Dalam pengembangan selanjutnya, IPTN mengembangkan varian 110 dan 220. CASA mengembangkan versi 200 dan 300.
PTDI kini menjadi satu-satunya perusahaan yang memproduksi CN235. Berdasarkan catatan PTDI, CN235-220 beroperasi di Malaysia, Brunei Darussalam, Thailand, Korea Selatan, Uni Emirat Arab, Burkina Faso, Pakistan, Senegal, dan Nepal.
Pengguna dari berbagai negara memanfaatkan CN235 untuk beragam kebutuhan. Pesawat multiguna tersebut menjalankan misi transportasi militer maupun patroli maritim.
InaTEWS Perkuat Peringatan Tsunami
Indonesia juga mengembangkan sistem peringatan dini tsunami melalui Indonesia Tsunami Early Warning System atau InaTEWS. BMKG mengoperasikan sistem tersebut untuk mendukung mitigasi bencana tsunami di Indonesia.
Peran InaTEWS juga mencakup kebutuhan regional. BMKG menjalankan fungsi sebagai Tsunami Service Provider (TSP) untuk kawasan Samudra Hindia bersama Australia dan India.
Melalui peran tersebut, BMKG menyediakan informasi peringatan dini tsunami bagi 28 negara. Informasi itu membantu negara-negara di kawasan Samudra Hindia memantau potensi tsunami setelah terjadi gempa.
BMKG menyatakan sistem InaTEWS dapat menghasilkan parameter gempa dalam waktu sekitar 30 hingga 60 detik. Selanjutnya, sistem tersebut dapat mengeluarkan peringatan dini tsunami dalam waktu kurang dari tiga menit.
Kecepatan informasi menjadi faktor penting dalam mitigasi tsunami. Negara-negara yang menerima informasi tersebut dapat menggunakan data peringatan dini untuk mendukung langkah penanganan sesuai kondisi wilayah masing-masing.
QRIS Perluas Transaksi Digital Indonesia
Sektor pembayaran digital ikut memperlihatkan bagaimana teknologi Indonesia mendunia. Bank Indonesia mengembangkan Quick Response Code Indonesian Standard atau QRIS bersama industri sistem pembayaran untuk menciptakan standar transaksi menggunakan kode QR.
QRIS Antarnegara memungkinkan wisatawan Indonesia menggunakan aplikasi pembayaran domestik ketika bertransaksi di negara mitra. Sebaliknya, wisatawan dari negara mitra dapat melakukan pembayaran di Indonesia melalui sistem yang telah terhubung.
Bank Indonesia mencatat koneksi QRIS Antarnegara dengan Thailand, Malaysia, Singapura, Jepang, Korea Selatan, dan China. Sistem tersebut menghubungkan jaringan pembayaran melalui interoperabilitas QR.
Pengguna tidak perlu bergantung pada satu jaringan pembayaran yang sama. Koneksi antarsistem memungkinkan transaksi lintas negara berlangsung dengan mekanisme QR yang telah terintegrasi.
Empat inovasi tersebut memperlihatkan perkembangan teknologi Indonesia di berbagai sektor. Sosrobahu berperan dalam konstruksi, CN235 bergerak dalam industri penerbangan, InaTEWS mendukung mitigasi tsunami, sedangkan QRIS memperkuat transaksi digital lintas negara.
Pemanfaatan berbagai inovasi tersebut di luar negeri menunjukkan bahwa Indonesia mampu menghasilkan teknologi yang menjawab kebutuhan nyata. Perkembangan itu sekaligus memperlihatkan bahwa inovasi dalam negeri memiliki peluang untuk terus berkembang dan menjangkau pengguna internasional.
(Redaksi)


