
IDENESIA.CO – Indeks polusi udara di sejumlah wilayah Sarawak, Malaysia, meningkat akibat kabut asap yang berasal dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan, Indonesia. Kondisi tersebut membuat pemerintah Malaysia kembali mencari langkah diplomatik untuk menangani persoalan kabut asap lintas batas.
Menteri Luar Negeri Malaysia Datuk Seri Mohamad Hasan mengatakan Malaysia akan menggunakan mekanisme ASEAN untuk mencari solusi atas persoalan tersebut. Pemerintah Malaysia juga akan menyampaikan masalah itu kepada Sekretariat ASEAN.
Selain itu, Kementerian Sumber Daya Alam dan Kelestarian Lingkungan (NRES) Malaysia akan mengirimkan surat kepada pihak terkait di Indonesia.
“Menteri NRES Datuk Seri Arthur Joseph Kurup juga akan mengirimkan surat kepada mitranya di Indonesia,” kata Hasan seperti diberitakan New Straits Times, Jumat (21/8).
Hasan menilai ASEAN memiliki mekanisme yang efektif untuk menangani persoalan yang melibatkan negara-negara anggotanya. Oleh karena itu, Malaysia berharap Sekretariat ASEAN dapat membantu mencari penyelesaian atas persoalan kabut asap.
Serian Catat API 217
Berdasarkan data Malaysian Air Pollutant Index Management System (APIMS), Serian menjadi wilayah dengan tingkat polusi udara tertinggi di Sarawak pada Sabtu (22/8).
Hingga pukul 16.00 waktu setempat, Serian mencatat API 217. Angka tersebut masuk kategori sangat tidak sehat.
Sementara itu, sembilan wilayah lain di Sarawak juga masuk kategori tidak sehat. Sri Aman mencatat API 186, kemudian Sarikei 173, Kuching 171, dan Samarahan 170.
Selanjutnya, Sibu dan Samalaju masing-masing mencatat API 156. Bintulu berada pada angka 153, Mukah 125, sedangkan Kapit mencatat API 108.
Kondisi tersebut menunjukkan dampak kabut asap mulai meluas di sejumlah wilayah Sarawak yang berada dekat dengan perbatasan Kalimantan.
Malaysia Bahas Kabut Asap dengan Brunei
Selain berkoordinasi melalui ASEAN, Malaysia juga membahas persoalan kabut asap dengan Brunei. Komisaris Tinggi Malaysia untuk Brunei Datuk Mohd Aini Atan mengatakan persoalan tersebut menjadi salah satu perhatian kedua negara.
Pembahasan berlangsung dalam Konsultasi Tahunan Pemimpin Malaysia-Brunei ke-27 atau ALC-27 pada Sabtu (22/8). Pertemuan tersebut mempertemukan Perdana Menteri Malaysia Datuk Seri Anwar Ibrahim dengan Sultan Brunei Sultan Hassanal Bolkiah.
Sebelumnya, kedua negara juga menggelar Malaysia-Brunei Exchange of Letters ke-27 atau EOL-27 pada Jumat (21/8).
Kabut Asap Kembali Jadi Isu Lintas Batas
Kabut asap akibat karhutla di Indonesia telah menjadi persoalan berulang di kawasan Asia Tenggara. Malaysia dan Singapura kerap merasakan dampaknya karena letak geografis kedua negara berdekatan dengan Indonesia.
Karena itu, Malaysia kembali mendorong penyelesaian melalui kerja sama regional. Pemerintah Malaysia menilai ASEAN dapat menjadi jalur untuk memperkuat koordinasi antarnegara dalam menghadapi persoalan kabut asap lintas batas.
Krisis kabut asap terbesar sebelumnya terjadi pada 1997-1998 dan 2015. Saat itu, kabut asap menyelimuti sejumlah wilayah Indonesia, Malaysia, dan Singapura serta menimbulkan berbagai persoalan kesehatan.
(Redaksi)


