Nasional

EBITDA Bayan Resources Berpotensi Turun US$300 Juta, Moody’s Ubah Outlook Jadi Negatif

IDENESIA.CO –  Ketidakpastian kuota produksi batu bara membuat Moody’s Ratings mengubah prospek PT Bayan Resources Tbk (BYAN) dari stabil menjadi negatif. Meski outlook berubah, Moody’s tetap mempertahankan peringkat kredit perusahaan pada level Ba1.

Lembaga pemeringkat global tersebut menilai belum adanya persetujuan revisi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026 menjadi faktor utama yang menekan prospek Bayan Resources.

Moody’s menyebut kondisi tersebut telah mendorong BYAN menyatakan force majeure. Jika persoalan kuota produksi tidak segera selesai, kondisi itu berpotensi menghambat produksi dan menekan kinerja keuangan perusahaan.

“Prospek negatif ini mencerminkan ketidakpastian regulasi terkait alokasi kuota produksi, yang telah mendorong BYAN untuk menyatakan force majeure. Jika tidak segera diselesaikan, ketidakpastian ini dapat menghambat produksi dan membebani kinerja keuangan,” ujar Assistant Vice President Moody’s Ratings Anthony Prayugo dalam keterangan tertulis, Jumat (18/9/2026).

Moody’s Perkirakan EBITDA Bayan Turun

Anthony mengatakan posisi kredit Bayan Resources sebenarnya masih kuat. Salah satu faktor pendukungnya adalah kondisi perusahaan yang masih bebas utang.

Namun, ketidakpastian kuota produksi dapat menghambat pertumbuhan produksi perusahaan. Kondisi tersebut juga berpotensi memengaruhi profitabilitas operasional.

Moody’s memperkirakan Bayan dapat kehilangan EBITDA hingga US$300 juta jika revisi RKAB 2026 tidak segera memperoleh persetujuan.

Tahun lalu, BYAN mencatat EBITDA sebesar US$1,1 miliar. Dengan asumsi tersebut, EBITDA perusahaan pada tahun ini berpotensi turun menjadi sekitar US$700 juta.

“Jika produksi tetap berada di kisaran 39 juta ton di 2027, kami memperkirakan ada penurunan EBITDA lebih jauh menjadi sekitar US$400 juta hingga US$500 juta,” kata Anthony.

Moody’s menggunakan asumsi rata-rata harga jual batu bara atau average selling price (ASP) sebesar US$48 per metrik ton dalam perhitungannya.

Perkiraan Rasio Utang Bayan Tetap Rendah

Di tengah tekanan produksi, Moody’s memperkirakan metrik kredit Bayan tetap kuat.

Perusahaan diperkirakan menggunakan arus kas internal untuk membiayai belanja modal. Dana tersebut akan digunakan untuk meningkatkan kapasitas produksi dan memperluas infrastruktur.

Strategi tersebut dapat membatasi kebutuhan perusahaan untuk menambah utang.

“Kami memperkirakan rasio utang terhadap EBITDA akan tetap berada di bawah 0,5x selama dua tahun ke depan,” ujar Anthony.

Moody’s juga memperkirakan peluang peningkatan peringkat kredit BYAN masih terbatas dalam 12-18 bulan ke depan.

Outlook Bayan dapat kembali stabil jika perusahaan mampu memperoleh kuota produksi yang dibutuhkan secara konsisten. Kemampuan tersebut perlu diikuti dengan terjaganya produksi, pendapatan, dan arus kas.

Selain itu, perusahaan perlu mempertahankan likuiditas yang kuat. Moody’s juga mempertimbangkan kebijakan keuangan yang konservatif serta pendekatan hati-hati dalam investasi dan pembagian hasil kepada pemegang saham.

 Kemungkinan Penurunan Rating

Moody’s menyatakan dapat menurunkan peringkat BYAN jika gangguan operasional dan kondisi force majeure berlangsung dalam waktu lama.

Situasi tersebut dapat melemahkan produksi, pendapatan, arus kas, atau likuiditas perusahaan.

Perubahan kepemilikan juga menjadi salah satu faktor yang akan diperhatikan Moody’s. Lembaga tersebut dapat meninjau kembali peringkat jika perubahan pengendalian mendorong kebijakan keuangan yang lebih agresif.

Peningkatan leverage, pembagian hasil yang lebih besar kepada pemegang saham, atau meningkatnya transaksi dengan pihak berelasi juga dapat menjadi pertimbangan.

Haji Isam Ambil Sekitar 30 Persen Saham BYAN

Perubahan outlook Moody’s muncul tidak lama setelah pengumuman transaksi saham BYAN yang melibatkan Andi Syamsuddin Arsyad atau Haji Isam.

Melalui PT Jhonlin Baratama, Haji Isam menandatangani perjanjian jual beli saham bersyarat dengan pengendali BYAN Low Tuck Kwong dan Elaine Low pada 16 September 2026.

Transaksi tersebut mencakup 10.000.000.500 saham biasa BYAN. Jumlah itu setara sekitar 30 persen dari saham beredar perusahaan.

“Penyelesaian transaksi tunduk pada pemenuhan beberapa kondisi-kondisi pendahuluan,” kata Direktur BYAN Jenny Quantro dalam keterbukaan informasi yang dikutip Kamis (17/9/2026).

Manajemen BYAN menyatakan transaksi tersebut tidak memberikan dampak material negatif terhadap kelangsungan usaha perusahaan.

“Kejadian tersebut tidak menimbulkan dampak material negatif yang dapat mengganggu kegiatan operasional, aspek hukum, kondisi keuangan,” ujar Jenny.

Moody’s sendiri menegaskan perubahan outlook bukan karena masuknya Haji Isam sebagai pemegang saham. Faktor utama yang menjadi perhatian lembaga pemeringkat tersebut adalah ketidakpastian kuota produksi dan revisi RKAB 2026.

ESDM Targetkan Revisi RKAB Rampung

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sebelumnya menargetkan evaluasi revisi RKAB 2026 batu bara untuk tiga anak usaha Bayan Resources rampung pada pekan ini.

Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian ESDM Tri Winarno mengatakan pengajuan revisi RKAB dari tiga anak usaha Bayan masih menjalani evaluasi.

“Karena lagi evaluasi, mungkin ada beberapa hal yang perlu dilakukan pencermatan atau evaluasi, yang lain sudah kelar,” kata Tri saat ditemui di kompleks parlemen setelah rapat dengan Komisi XII DPR RI, Rabu (16/9/2026).

Tri berharap proses evaluasi tersebut selesai dalam waktu dekat.

“Secara spesifik saya belum lihat [penyebab belum terbit], tetapi sedang proses lah. Mudah-mudahan minggu ini kelar,” ujarnya.

Menurut Tri, dari sejumlah perusahaan yang berada di bawah Grup Bayan, hanya tiga anak usaha yang masih menunggu revisi RKAB.

Grup Bayan sendiri memiliki 16 Izin Usaha Pertambangan (IUP) dan lima Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batu Bara (PKP2B).

Total konsesi tambang batu bara Grup Bayan mencapai lebih dari 126.000 hektare yang tersebar di Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan.

(Redaksi)

Show More
Back to top button