
IDENESIA.CO – Tekanan terhadap rupiah menjadi perhatian di tengah kenaikan harga minyak dunia, meningkatnya beban subsidi energi, dan ketidakpastian pasar keuangan. Di tengah kondisi tersebut, kurs dolar Amerika Serikat (AS) di Bank Central Asia (BCA) pada Rabu (28/10/2026) tercatat mencapai Rp18.225 untuk harga jual dan Rp18.115 untuk harga beli.
Berdasarkan pembaruan terakhir pukul 18.59.35 WIB, selisih kurs jual dan beli dolar AS di BCA mencapai Rp110 per dolar AS. Data ini memberikan gambaran nilai tukar yang berlaku pada salah satu bank nasional di tengah tekanan terhadap mata uang domestik.
Sebelumnya, rupiah ditutup melemah ke level Rp18.135 per dolar AS pada perdagangan Senin (26/10/2026). Rupiah turun 55 poin atau 0,30 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp18.080 per dolar AS.
Pengamat ekonomi Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menilai tekanan terhadap rupiah dipengaruhi tiga faktor utama, yakni kenaikan harga minyak dunia, kekhawatiran terhadap kondisi fiskal, dan ketidakpastian di pasar modal domestik.
Kurs Dolar BCA: Harga Jual Rp18.225 dan Beli Rp18.115
Berdasarkan data kurs BCA yang diperbarui pada Rabu (28/10/2026) pukul 18.59.35 WIB, berikut rincian harga dolar AS:
| Jenis kurs | Nilai per US$1 |
|---|---|
| Harga jual | Rp18.225 |
| Harga beli | Rp18.115 |
| Selisih kurs | Rp110 |
Harga jual merupakan kurs yang digunakan bank ketika nasabah membeli dolar AS. Sebaliknya, harga beli merupakan kurs yang digunakan bank ketika nasabah menjual dolar AS kepada bank.
Sebagai ilustrasi, nasabah membutuhkan Rp1.822.500 untuk membeli US$100 berdasarkan kurs jual tersebut, sebelum biaya tambahan jika berlaku. Sementara itu, penjualan US$100 dengan kurs beli Rp18.115 menghasilkan Rp1.811.500 sebelum biaya tambahan.
Nasabah perlu memeriksa kembali kurs yang berlaku saat transaksi karena nilai tukar dapat berubah mengikuti pembaruan bank dan kanal transaksi.
Harga Minyak Dunia Menambah Tekanan terhadap Rupiah
Yusuf menyoroti harga minyak Brent yang berada di sekitar US$115 per barel setelah sempat menyentuh US$116 per barel. Kenaikan harga minyak meningkatkan kebutuhan dolar AS untuk membiayai impor energi Indonesia.
Di dalam negeri, harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) mencapai US$91,9 per barel pada akhir September. Angka tersebut jauh di atas asumsi APBN sebesar US$70 per barel.
Kenaikan harga minyak juga berpotensi menambah beban anggaran negara. Hingga 30 September, belanja subsidi dan kompensasi energi mencapai Rp376,8 triliun, naik 54,1 persen secara tahunan.
Yusuf menilai selisih harga minyak aktual dan asumsi APBN dapat meningkatkan risiko pelebaran defisit jika tekanan berlangsung lama.
“Selisih yang cukup lebar ini meningkatkan risiko pelebaran defisit dan mempersempit ruang fiskal pemerintah,” kata Yusuf Senin (26/10).
Ketidakpastian Pasar Modal Ikut Membebani Rupiah
Selain faktor energi dan fiskal, Yusuf menyoroti ketidakpastian pasar modal, terutama terkait rencana MSCI mengenai transparansi kepemilikan saham dan struktur perdagangan.
Ia mencatat arus keluar dana asing dari pasar obligasi sebesar US$203 juta pada 21 Oktober. Pada Senin (26/10), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga terkoreksi sekitar 1 persen.
Menurut Yusuf, tekanan rupiah tidak sepenuhnya berasal dari faktor global. Ia menilai pelemahan rupiah ketika indeks dolar AS melemah dapat mengindikasikan peningkatan risiko yang dipersepsikan investor terhadap Indonesia.
“Jika penyebabnya semata-mata faktor global, rupiah seharusnya ikut mendapat ruang untuk menguat ketika dolar melemah,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa kekhawatiran terhadap kondisi fiskal, arah kebijakan, dan tata kelola pasar modal dapat memengaruhi kepercayaan investor.
Pelemahan Rupiah Berpotensi Menaikkan Harga Kebutuhan Pokok
Tekanan nilai tukar dapat merambat ke masyarakat melalui kenaikan biaya impor dan produksi. Barang yang menggunakan bahan baku dari luar negeri berpotensi mengalami kenaikan harga ketika biaya pembelian dalam dolar AS meningkat.
Yusuf menyoroti ketergantungan sejumlah produk terhadap bahan baku impor, termasuk pakan ayam dan gandum untuk produk mi serta roti. Tekanan biaya juga dapat memengaruhi harga obat-obatan dan kebutuhan rumah tangga lainnya.
Ia turut mencermati inflasi tahunan September yang meningkat dari 3,19 persen menjadi 3,28 persen. Sementara itu, inflasi pangan bergejolak mencapai 5,03 persen dan inflasi inti berada di level 2,84 persen.
“Bagi kelompok menengah bawah yang porsi belanja pangannya besar, kenaikan harga langsung mengurangi daya beli,” katanya.
Pengamat ekonomi Universitas Andalas, Syafruddin Karimi, mengingatkan bahwa perubahan kurs dalam satu hari tidak serta-merta menaikkan seluruh harga barang. Dampaknya bergantung pada kontrak impor, persediaan, subsidi, dan keputusan perusahaan dalam meneruskan kenaikan biaya kepada konsumen.
Namun, jika biaya produksi terus meningkat, perusahaan berpotensi menunda ekspansi, mengurangi perekrutan, atau melakukan efisiensi tenaga kerja.
Pengamat Dorong BI dan Pemerintah Menjaga Stabilitas Rupiah
Untuk meredam tekanan terhadap rupiah, Yusuf menilai Bank Indonesia (BI) perlu melanjutkan intervensi di pasar valuta asing, menggunakan instrumen Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), dan menjaga stabilitas pasar surat berharga negara (SBN) sekunder.
BI juga dapat mempertimbangkan penyesuaian suku bunga jika arus keluar modal terus berlanjut. Namun, Yusuf mengingatkan bahwa stabilisasi nilai tukar tidak cukup hanya mengandalkan kebijakan moneter.
Pemerintah perlu menjaga kredibilitas fiskal, menjelaskan strategi pembiayaan secara transparan, dan memastikan subsidi energi tepat sasaran. Pembenahan tata kelola pasar modal serta penguatan pasokan devisa juga menjadi bagian dari upaya menjaga kepercayaan investor.
Syafruddin menambahkan bahwa intervensi pasar perlu berjalan beriringan dengan perbaikan fundamental ekonomi. Pengetatan moneter yang berlebihan juga berisiko menekan kredit, investasi, dan kesempatan kerja.
“Intervensi besar tanpa reformasi berisiko hanya membeli waktu; pengetatan moneter berlebihan juga dapat menahan kredit, investasi, dan pekerjaan,” kata Syafruddin.
Menurutnya, pemerintah dan BI perlu memantau volatilitas rupiah, arus modal, imbal hasil SBN, inflasi impor, dan kondisi pembiayaan untuk menilai perkembangan tekanan ekonomi.
Dengan demikian, pergerakan kurs dolar di perbankan, termasuk BCA, menjadi salah satu indikator yang dapat dipantau masyarakat. Namun, kurs jual dan beli bank berbeda dari kurs penutupan pasar dan tidak dapat digunakan sendirian untuk menyimpulkan pergerakan rupiah secara keseluruhan.
(Redaksi)




