Internasional

Amerika Serikat Khawatirkan Program Nuklir China Setelah Uji Coba Rudal Pasifik

IDENESIA.CO – Pemerintah Amerika Serikat mengungkapkan kekhawatiran mendalam atas perkembangan program nuklir China saat ini. Sikap resmi tersebut muncul setelah militer China meluncurkan rudal dari kapal selam bertenaga nuklir di Samudra Pasifik pada Senin (6/7/2026). Langkah strategis Beijing ini menandai fase terbaru dari modernisasi kekuatan militer mereka secara masif.

Uji coba di kawasan Samudra Pasifik tersebut berlangsung dua tahun setelah peristiwa serupa pada perairan internasional dekat Polinesia Prancis. Kala itu, China menembakkan rudal balistik antarbenua yang menjadi peluncuran pertama mereka dalam jangka waktu empat dekade terakhir. Berbagai pengamat militer menilai aktivitas ini sebagai pembuktian kemampuan ofensif yang makin nyata.

Para analis memperhitungkan bahwa kemampuan armada laut Beijing kini dapat menjangkau daratan utama Amerika Serikat secara langsung. Situasi tersebut memperumit dinamika geopolitik global karena Washington memandang kekuatan Asia itu sebagai kompetitor strategis utama. Ketegangan ini terus membayangi hubungan bilateral kedua negara, meskipun Donald Trump sempat mengupayakan langkah rekonsiliasi.

Respons Resmi Washington Terhadap Modernisasi Program Nuklir China

Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat langsung memberikan pernyataan resmi mengenai dinamika persenjataan di Asia Timur tersebut. Pihak berwenang menilai tindakan Beijing bertolak belakang dengan misi perdamaian global saat ini. Juru bicara Departemen Luar Negeri Amerika Serikat, Tommy Pigott, menyampaikan kritik tersebut melalui kantor berita AFP pada Selasa (7/7/2026).

“Saat pihak Amerika Serikat berupaya keras menghalangi penyebaran senjata pemusnah massal di dunia, pihak China justru mengembangkan program nuklir China ke arah sebaliknya,” ujar Tommy Pigott. Pernyataan tertulis tersebut menegaskan bahwa akselerasi militer yang tertutup berpotensi mengganggu stabilitas regional.

“Langkah Beijing mempercepat penambahan hulu ledak tanpa transparansi publik sangat merisaukan bagi stabilitas kawasan sekitar serta komunitas global,” kata Tommy Pigott menambahkan. Rezim keamanan internasional saat ini memang sedang mengalami kekosongan pasca-berakhirnya beberapa traktat bilateral terdahulu.

Sebelumnya, Pemerintah Amerika Serikat mengizinkan masa berlaku Perjanjian New START berakhir pada bulan Februari lalu. Kesepakatan tersebut merupakan pakta pembatasan senjata nuklir terakhir yang mengikat pihak Washington dan Rusia. Amerika Serikat menolak memperpanjang perjanjian lama karena menuntut skema baru yang melibatkan partisipasi langsung dari Beijing.

Tuntutan Transparansi Global dan Tanggapan Militer Beijing

Pemerintah China secara konsisten menolak draf kesepakatan tripartit tersebut hingga saat ini. Otoritas Beijing beralasan bahwa kuantitas senjata mereka masih jauh lebih sedikit daripada total persediaan militer milik Rusia. Namun, lembaga intelijen barat mencatat grafik pertumbuhan arsenal strategis Asia tersebut bergerak naik secara signifikan.

Merespons situasi itu, Departemen Luar Negeri Amerika Serikat mendesak pemimpin Beijing untuk segera membuka jalur diplomasi. Washington meminta keterlibatan aktif dalam pembahasan pengendalian senjata global yang memiliki kekuatan hukum formal. Selain itu, Amerika Serikat menuntut adanya sistem pemberitahuan berkala untuk setiap peluncuran rudal jarak jauh dan misi antariksa.

Di pihak lain, Tentara Pembebasan Rakyat China memberikan klarifikasi resmi guna meredakan spekulasi internasional. Juru bicara angkatan laut China, Wang Xuemeng, merilis pernyataan khusus melalui platform komunikasi WeChat. Pihak militer menegaskan bahwa peluncuran tersebut tidak menyasar entitas negara tertentu.

“Peluncuran rudal ini merupakan bagian dari agenda rutin dalam program latihan militer tahunan kami,” ungkap Wang Xuemeng. Pihak komando menegaskan bahwa manajemen operasi telah mengirimkan informasi tertulis kepada negara-negara terkait sebelum melepaskan tembakan tersebut ke Samudra Pasifik.

(Redaksi)

Show More
Back to top button