
IDENESIA.CO – Amerika Serikat dan Iran kembali membuka jalur diplomasi melalui pembicaraan langsung yang berlangsung di Swiss. Pertemuan tersebut digelar di tengah ketegangan baru setelah Iran mengumumkan penutupan kembali Selat Hormuz sebagai respons atas serangan Israel di Lebanon selatan.
Meski demikian, militer Amerika Serikat membantah adanya gangguan total terhadap jalur pelayaran strategis tersebut. Washington memastikan aktivitas kapal dagang masih berlangsung normal di kawasan itu.
Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance tiba di Swiss pada Minggu pagi untuk memimpin delegasi negaranya. Sementara itu, Iran mengirim sejumlah pejabat tinggi, termasuk Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf dan Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi.
Pertemuan tersebut juga melibatkan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif dan Panglima Angkatan Bersenjata Pakistan Marsekal Lapangan Asim Munir. Pakistan berperan sebagai mediator dalam upaya meredakan ketegangan antara Washington dan Teheran.
Selat Hormuz Kembali Jadi Sumber Ketegangan
Iran menyatakan penutupan Selat Hormuz sebagai respons atas dugaan pelanggaran kesepakatan oleh Amerika Serikat. Teheran menilai Washington gagal menjalankan komitmen penghentian operasi militer di seluruh kawasan, termasuk Lebanon.
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menuding serangan Israel di Lebanon selatan bertentangan dengan semangat kesepakatan yang sebelumnya disepakati AS dan Iran.
Namun, Komando Pusat Amerika Serikat (Centcom) memberikan penjelasan berbeda. Juru bicara Centcom Tim Hawkins menegaskan lalu lintas pelayaran internasional masih berjalan seperti biasa.
“Lalu lintas terus mengalir dan pasukan Amerika Serikat terus memantau situasi untuk memastikan kondisi tersebut tetap terjaga,” katanya.
Menurut Centcom, sebanyak 55 kapal dagang melintasi Selat Hormuz pada Sabtu dengan membawa lebih dari 17 juta barel minyak menuju pasar global.
Fokus Pembicaraan pada Nuklir dan Gencatan Senjata
Selain membahas ketegangan di kawasan, delegasi kedua negara juga akan membahas isu program nuklir Iran dan implementasi kesepakatan gencatan senjata.
JD Vance mengatakan pemerintah AS berharap pertemuan tersebut menghasilkan kemajuan dalam sejumlah isu strategis.
“Kami ingin mendorong kemajuan dalam isu nuklir dan memastikan implementasi gencatan senjata di Lebanon berjalan baik,” ujarnya sebelum berangkat ke Swiss.
Vance menilai situasi keamanan di Lebanon mulai menunjukkan perbaikan meskipun bentrokan sporadis masih terjadi antara Israel dan Hizbullah.
Menurut dia, stabilitas kawasan menjadi tujuan utama yang ingin dicapai melalui proses diplomasi tersebut.
Pakistan Kembali Ambil Peran Mediasi
Pemerintah Pakistan kembali mengambil peran penting dalam proses negosiasi antara Washington dan Teheran.
Kementerian Luar Negeri Pakistan menegaskan komitmennya untuk mendukung pelaksanaan kesepahaman yang telah dicapai kedua negara.
“Pakistan akan terus mendukung implementasi kesepahaman antara Iran dan Amerika Serikat,” tulis kementerian tersebut dalam pernyataan resmi.
Sebelumnya, Islamabad juga menjadi tuan rumah sejumlah pertemuan yang mempertemukan perwakilan AS dan Iran selama konflik berlangsung.
Konflik Israel-Hizbullah Masih Membayangi
Di tengah upaya diplomasi tersebut, situasi di Lebanon masih menjadi perhatian dunia internasional. Serangan udara Israel dan bentrokan dengan Hizbullah terus memicu korban jiwa dalam beberapa pekan terakhir.
Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan sedikitnya 47 orang meninggal dunia akibat serangan terbaru Israel pada Sabtu.
Sementara itu, Pasukan Pertahanan Israel (IDF) mengklaim telah menyerang puluhan target yang berkaitan dengan Hizbullah dan menewaskan sejumlah anggota kelompok tersebut.
Meski kedua pihak telah menyepakati gencatan senjata, sejumlah insiden keamanan masih terjadi di lapangan.
Hizbullah bahkan menuduh operasi militer Israel bertujuan menggagalkan kesepakatan yang lebih luas antara Amerika Serikat dan Iran.
Selat Hormuz Tetap Krusial bagi Pasar Energi Dunia
Perkembangan di Selat Hormuz terus menjadi perhatian pasar global. Jalur pelayaran tersebut merupakan pintu utama ekspor minyak mentah dan gas alam dari negara-negara Teluk menuju berbagai negara konsumen.
Data Administrasi Informasi Energi Amerika Serikat menunjukkan sekitar 20 juta barel minyak dan produk turunannya melintasi Selat Hormuz setiap hari sepanjang 2025.
Nilai perdagangan energi yang melewati jalur tersebut diperkirakan mencapai sekitar 600 miliar dolar AS per tahun.
Karena itu, setiap gangguan terhadap aktivitas pelayaran di Selat Hormuz berpotensi memengaruhi pasokan energi dan harga minyak dunia dalam waktu singkat.
(Redaksi)



