Internasional

Australia Gelar Hari Refleksi Nasional Usai Penembakan Bondi

IDENESIA.CO – Pemerintah Australia menetapkan Hari Refleksi Nasional untuk mengenang para korban penembakan massal di Pantai Bondi, Sydney, yang menewaskan 15 orang dan melukai puluhan lainnya, sekaligus menandai dimulainya evaluasi besar-besaran terhadap sistem keamanan nasional negara tersebut.

Upacara Adat dan Penghormatan Nasional bagi Korban Penembakan Bondi

Peringatan Hari Refleksi Nasional dimulai pada Minggu pagi, 21 Desember 2025, dengan pelaksanaan upacara adat smoking ceremony di Bondi Pavilion. Para pemimpin masyarakat adat memimpin ritual tersebut sebagai bentuk penghormatan dan penyucian, di tengah duka mendalam yang menyelimuti Australia.

Di lokasi yang sama, warga terus menambahkan bunga, lilin, serta pesan duka di memorial spontan untuk mengenang 15 korban yang tewas saat merayakan Hari Raya Hanukkah Yahudi. Tragedi tersebut mengguncang publik karena terjadi di ruang terbuka yang selama ini dikenal aman dan ramai pengunjung.

Bendera Setengah Tiang dan Mengheningkan Cipta Serentak

Dikutip dari Al Jazeera, pemerintah Australia mengibarkan bendera setengah tiang di seluruh gedung pemerintahan sebagai simbol duka nasional. Satu menit mengheningkan cipta dijadwalkan berlangsung pada pukul 18.47 waktu setempat atau 07.47 GMT, bertepatan dengan waktu dimulainya serangan bersenjata pada 14 Desember lalu.

Pemerintah juga mengajak masyarakat Australia menyalakan lilin pada Minggu malam sebagai bentuk penghormatan bagi para korban. Aksi tersebut bertepatan dengan hari kedelapan dan terakhir Festival Cahaya Hanukkah, sehingga memiliki makna simbolis bagi komunitas Yahudi yang menjadi target serangan.

Pengamanan Ketat dalam Peringatan Malam Hari

Peringatan lanjutan pada malam hari di kawasan Pantai Bondi digelar dengan pengamanan ketat. Kepolisian setempat menurunkan personel bersenjata laras panjang untuk memastikan keamanan acara dan mencegah potensi ancaman lanjutan.

Kepolisian menyatakan langkah pengamanan ekstra diperlukan mengingat trauma publik masih kuat serta status penyelidikan insiden yang masih berlangsung. Aparat juga mengimbau masyarakat untuk tetap waspada namun tidak terprovokasi oleh informasi yang belum terverifikasi.

Serangan Bondi Disebut Aksi Terorisme Paling Mematikan Sejak 1996

Penembakan pada 14 Desember tersebut menjadi insiden penembakan massal paling mematikan di Australia sejak tragedi Port Arthur, Tasmania, pada 1996 yang menewaskan 35 orang. Otoritas Australia menyelidiki kasus ini sebagai aksi terorisme bermotif kebencian yang menargetkan komunitas Yahudi.

Pihak berwenang menyatakan para pelaku terinspirasi oleh kelompok Islamic State (ISIS). Polisi menemukan bendera ISIS di dalam kendaraan yang digunakan pelaku untuk menuju lokasi serangan di Bondi.

Perkembangan Kasus dan Kondisi Korban

Salah satu tersangka, Sajid Akram (50), tewas ditembak polisi di lokasi kejadian. Sementara itu, putranya, Naveed Akram (24), yang sebelumnya kritis dan sempat koma, kini telah sadar dan menjalani perawatan di rumah sakit dengan status sebagai tahanan.

Penyidik mendakwa Naveed Akram dengan 59 tuduhan, termasuk pembunuhan dan terorisme. Hingga Minggu, sebanyak 13 korban luka masih menjalani perawatan intensif di sejumlah rumah sakit di Sydney.

Albanese Akui Kelemahan Sistem Intelijen Australia

Perdana Menteri Australia Anthony Albanese menyatakan tragedi Bondi mengungkap “masalah nyata” dalam sistem intelijen dan penegakan hukum Australia. Kepada penyiar nasional ABC, Albanese menekankan perlunya evaluasi menyeluruh terhadap mekanisme kerja lembaga keamanan.

Ia menyoroti penilaian yang pernah dilakukan aparat pada 2019 terhadap salah satu pelaku, yang kini dipertanyakan efektivitasnya dalam mencegah serangan tersebut.

Pemerintah Bentuk Tim Peninjauan Lembaga Keamanan Nasional

Dalam pernyataan terpisah, Albanese mengumumkan peninjauan komprehensif terhadap lembaga keamanan nasional yang akan dipimpin oleh mantan kepala badan intelijen Australia. Penyelidikan ini mencakup evaluasi kewenangan, struktur organisasi, prosedur operasional, serta mekanisme berbagi informasi antara kepolisian federal dan badan intelijen.

Pemerintah menargetkan laporan akhir rampung pada akhir April 2026 sebagai dasar pengambilan kebijakan keamanan ke depan.

Sorotan pada Undang-Undang Senjata dan Respons Sosial

Sebelumnya, Albanese telah mengumumkan program pembelian kembali senjata api secara nasional. Namun, para pakar keselamatan senjata menilai undang-undang senjata Australia yang selama ini dikenal ketat masih menyimpan celah yang memungkinkan penyalahgunaan.

Di sisi lain, Albanese mengecam aksi unjuk rasa anti-imigrasi yang digelar di Sydney dan Melbourne pada Minggu. Ia menilai demonstrasi tersebut berupaya memecah belah masyarakat di tengah duka nasional akibat serangan teroris bermotif antisemit.

Menurut laporan Reuters, jumlah peserta aksi di Sydney hanya sekitar 50 orang hingga Minggu sore. Pemerintah menegaskan bahwa kebencian dan ujaran permusuhan tidak memiliki tempat dalam masyarakat Australia yang multikultural.

(Redaksi)

Show More
Back to top button