
IDENESIA.CO – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terus memperkuat penanganan karhutla di sejumlah wilayah Kalimantan dan Sumatera. Selain mengandalkan pemadaman dari darat, pemerintah mengerahkan Satgas Udara untuk menekan titik api melalui operasi water bombing.
Hingga Rabu (26/8/2026), Satgas Udara telah mengangkut dan menyebarkan sekitar 4,6 juta liter air ke sejumlah lokasi kebakaran di enam provinsi prioritas. Operasi tersebut menyasar wilayah yang sulit dijangkau petugas melalui jalur darat.
Plt Kapusdatin BNPB Berton SP Panjaitan menyampaikan perkembangan penanganan tersebut dalam konferensi pers yang tayang melalui YouTube BNPB, Rabu (26/8/2026). Ia juga memaparkan kondisi karhutla berdasarkan pemantauan hotspot dan firespot di sejumlah daerah.
Karhutla Berdampak pada Jarak Pandang
Kalimantan Barat menjadi salah satu wilayah yang menghadapi kondisi karhutla cukup serius. BNPB mencatat 2.610 hotspot dan 64 firespot di wilayah tersebut.
Petugas memperkirakan indikasi luas lahan yang terbakar mencapai lebih dari 38.310 hektare. Kondisi asap juga memengaruhi jarak pandang yang berada di bawah 1 kilometer.
Menurut Berton, kondisi tersebut dapat memengaruhi aktivitas masyarakat sekaligus operasi penanganan kebakaran. Jarak pandang yang terbatas juga menjadi perhatian dalam pelaksanaan pemadaman menggunakan pesawat.
Kalimantan Tengah mencatat 2.110 hotspot dan 55 firespot. BNPB memperkirakan luas lahan yang terbakar mencapai lebih dari 7.634 hektare. Namun, jarak pandang di wilayah tersebut masih berada di atas 10 kilometer.
Sementara itu, Kalimantan Selatan memiliki 817 hotspot dan 1.995 firespot. Indikasi luas lahan terbakar mencapai lebih dari 9.605 hektare dengan jarak pandang di atas 9 kilometer.
Hotspot Karhutla Juga Muncul di Sumatera
Aktivitas karhutla juga terjadi di sejumlah wilayah Sumatera. Sumatera Selatan mencatat 1.438 hotspot dan 25 firespot. BNPB memperkirakan luas lahan yang terbakar mencapai lebih dari 1.926 hektare.
Jarak pandang di Sumatera Selatan berada di sekitar 3 kilometer. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa asap dari kebakaran juga mulai memengaruhi kondisi atmosfer di wilayah tersebut.
Di Riau, BNPB mencatat 225 hotspot dan 10 firespot. Indikasi luas lahan yang terbakar mencapai lebih dari 16.439 hektare. Jarak pandang berada di atas 1 kilometer.
BNPB juga menemukan 134 hotspot di Jambi. Petugas mencatat 11 firespot dan memperkirakan luas lahan terbakar mencapai lebih dari 954 hektare. Jarak pandang di wilayah itu berada di sekitar 1 kilometer.
Data tersebut menunjukkan penyebaran titik panas dan kebakaran terjadi di beberapa wilayah dengan karakteristik lahan serta kondisi cuaca yang berbeda.
Hujan Bantu Kurangi Risiko Kebakaran
Selain operasi pemadaman, pemerintah memanfaatkan operasi modifikasi cuaca (OMC) untuk membantu penanganan karhutla. BNPB menyebut hujan mulai turun di sejumlah kabupaten di Kalimantan Barat sejak Selasa (25/8/2026).
Hujan tersebut turun setelah pemerintah menjalankan OMC. Kondisi serupa juga terjadi di Riau. Sejumlah kabupaten di wilayah tersebut mengalami hujan sejak Rabu pagi.
Hujan dapat membantu membasahi lahan dan mengurangi intensitas kebakaran. Namun, curah hujan tidak selalu menjangkau seluruh lokasi yang mengalami kebakaran.
Karena itu, petugas tetap membutuhkan pemadaman langsung. Kondisi lahan, cuaca, akses menuju lokasi, dan ketersediaan sumber air turut menentukan efektivitas penanganan.
Lahan Gambut Jadi Tantangan Pemadaman
BNPB mengerahkan Satgas Udara untuk melakukan water bombing di enam provinsi prioritas. Petugas menggunakan sejumlah sorti penerbangan untuk mengambil air dari sumber yang tersedia sebelum menyebarkannya ke lokasi kebakaran.
Metode tersebut membantu petugas menjangkau titik api yang sulit dicapai melalui jalur darat. Namun, kondisi lahan gambut memberikan tantangan tersendiri bagi operasi pemadaman.
Lahan gambut membutuhkan volume air yang besar ketika terbakar. Sumber air yang semakin menyusut dan lokasi sumber air yang jauh dari titik kebakaran juga dapat memperlambat proses pemadaman.
Selain itu, kondisi cuaca turut memengaruhi operasi udara. Petugas membutuhkan kondisi yang aman untuk menerbangkan pesawat dan menjangkau lokasi kebakaran.
Kabut asap yang tebal juga dapat membatasi jarak pandang awak pesawat. Kondisi tersebut membuat petugas harus mempertimbangkan faktor keselamatan ketika menjalankan operasi pemadaman dari udara.
BNPB akan melanjutkan penanganan karhutla di wilayah prioritas. Pemerintah memadukan pemadaman darat, water bombing, dan operasi modifikasi cuaca untuk menekan penyebaran kebakaran serta mengurangi dampaknya terhadap masyarakat.
(Redaksi)


