IDENESIA.CO – Dunia sepak bola Tanah Air kembali diguncang kabar kontroversial usai pernyataan seorang pemain asal Belanda yang mengaku menyesal pernah bermain di Indonesia.
Ucapan tersebut menuai reaksi keras dari publik, terutama pecinta sepak bola nasional, karena dianggap merendahkan Indonesia dan mencerminkan ketidakmenghargai pengalaman bermain di negeri ini.
Isu ini menjadi berita paling banyak dibaca publik sepanjang Senin (3/11/2025) dan menduduki peringkat pertama dalam daftar berita terpopuler versi VIVA.
Tak hanya karena pernyataannya yang menyinggung, tetapi juga karena fenomena pemain-pemain asal Belanda memang memiliki hubungan panjang dengan sepak bola Indonesia baik karena ikatan sejarah maupun karena banyak di antara mereka yang memiliki darah keturunan Indonesia.
Dalam wawancara yang diunggah oleh media olahraga Eropa, seorang mantan pemain asing yang pernah berkarier di Liga 1 Indonesia menyebut bahwa dirinya tidak menikmati masa bermain di Indonesia.
Ia bahkan menyebut Indonesia sebagai negara miskin yang tidak memiliki sistem sepak bola profesional seperti di Eropa.
“Saya tidak menyangka kondisi klub dan fasilitasnya seperti itu. Saya pikir bermain di Asia akan menjadi pengalaman baru, tapi ternyata sangat berbeda dengan ekspektasi saya,” ujar sang pemain yang namanya tidak disebutkan media tersebut demi alasan etika.
Lebih jauh, pemain asal Belanda itu menyebut bahwa sejumlah faktor seperti keterlambatan gaji, kualitas lapangan, hingga jadwal kompetisi yang tidak konsisten menjadi alasan ia merasa kecewa.
“Di Eropa, semuanya terencana dan profesional. Di Indonesia, saya merasa frustrasi. Banyak hal yang tidak bisa diprediksi,” ujarnya dalam wawancara tersebut.
Pernyataan itu langsung viral di media sosial. Banyak netizen Indonesia menilai ucapannya terlalu berlebihan dan mengabaikan kenyataan bahwa Indonesia memberi kesempatan bagi banyak pemain asing untuk berkarier dan memperoleh popularitas.
Hubungan antara sepak bola Indonesia dan Belanda memang unik. Sejak era Liga Indonesia awal 2000-an, banyak pemain asal Belanda yang mencoba peruntungan di Tanah Air.
Beberapa di antaranya bahkan memiliki darah keturunan Indonesia dan kemudian dinaturalisasi, seperti Stefano Lilipaly, Ezra Walian, dan Mees Hilgers.
Banyak dari mereka justru berhasil menjadi idola publik Indonesia.
Namun, tak sedikit pula yang gagal beradaptasi dengan iklim sepak bola nasional baik karena perbedaan budaya, kondisi kompetisi, maupun masalah finansial klub.
Bagi sebagian pemain, ekspektasi tinggi terhadap kehidupan di Asia sering kali tidak sesuai realita yang mereka hadapi di lapangan.
Analis sepak bola nasional Robby Darwis menilai, apa yang disampaikan pemain asing tersebut sebenarnya mencerminkan tantangan yang masih dihadapi dunia sepak bola Indonesia.
“Masalah seperti keterlambatan gaji atau infrastruktur memang masih menjadi PR besar. Tapi menyebut negara kita miskin jelas tidak pantas. Banyak pemain asing justru bangga pernah bermain di sini,” ujarnya.
Selain kabar pemain Belanda yang menyesal main di Indonesia, publik juga dikejutkan dengan pengakuan dari Jeong Seok-seo, mantan penerjemah pelatih Shin Tae-yong (STY).
Jeje sapaan akrabnya mengungkap bahwa STY sempat mendapat tawaran untuk melatih salah satu negara calon peserta Piala Dunia 2026 sebelum masa kontraknya bersama Indonesia berakhir.
“Dia (STY) sebenarnya sudah ditawari negara lain. Tapi dia sangat menghormati Indonesia dan menolak tawaran itu karena ingin menuntaskan pekerjaannya di sini,” ungkap Jeje dalam wawancara eksklusif dengan media Korea Selatan.
Pernyataan itu membuat rumor kembalinya STY ke Indonesia semakin ramai dibicarakan, apalagi setelah PSSI resmi mengakhiri kerja sama dengan Patrick Kluivert pertengahan Oktober lalu.
Meski rumor tersebut semakin kuat, Anggota Exco PSSI Vivin Cahyani Sungkono menegaskan bahwa federasi sepak bola Indonesia belum memiliki rencana untuk memanggil kembali Shin Tae-yong.
Ia menekankan bahwa fokus PSSI saat ini adalah mendukung Indra Sjafri yang tengah mempersiapkan Timnas U-23 untuk ajang SEA Games 2025.
“Saat ini seluruh energi kami tercurah penuh untuk mendukung Timnas U-23. Tidak ada pembicaraan resmi dengan pelatih mana pun,” kata Vivin dalam keterangan resminya.
Selain rumor STY, kabar buruk datang dari pemain keturunan Belanda yang memperkuat Timnas Indonesia, Mees Hilgers.
Bek tangguh FC Twente itu dipastikan absen panjang setelah mengalami cedera anterior cruciate ligament (ACL) dalam sesi latihan klubnya.
Cedera tersebut membuatnya harus menjalani operasi dan istirahat sedikitnya sembilan bulan.
Kabar ini menjadi pukulan berat bagi skuad Garuda, karena Hilgers merupakan salah satu tulang punggung pertahanan Indonesia di kualifikasi Piala Dunia zona Asia.
Kembali ke isu pemain Belanda yang menyesal bermain di Indonesia, banyak pengamat menilai bahwa kasus ini seharusnya dijadikan bahan refleksi bagi klub dan federasi untuk memperbaiki sistem manajemen liga.
Profesionalisme, kepastian jadwal, dan perlindungan pemain menjadi hal penting agar sepak bola Indonesia tidak lagi dianggap sebagai liga eksotis yang bermasalah.
(Redaksi)
