Ekonomi

IHSG Anjlok Dipicu Kebijakan MSCI, BEI Akui Terjadi Panic Selling Investor

IDENESIA.CO – Tekanan kuat di pasar saham domestik membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah tajam hingga memaksa Bursa Efek Indonesia (BEI) menghentikan sementara perdagangan. Pelemahan ini penyebabnya pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) terkait perubahan metodologi free float dan pembekuan penyesuaian indeks saham Indonesia.

Kebijakan tersebut memicu kepanikan investor, terutama pada saham-saham berkapitalisasi besar yang menjadi konstituen indeks global MSCI.

Saham Big Cap Tertekan, Investor Lakukan Aksi Jual

IHSG tertekan setelah sejumlah saham utama Indonesia yang masuk dalam indeks MSCI mengalami pelemahan signifikan. Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) tercatat turun 6,33% ke level Rp7.025 per lembar saham.

Selain BBCA, saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) juga anjlok 15% ke harga Rp98.600 per saham. Tekanan pada saham-saham tersebut terjadi akibat aksi jual bersih (net sell) yang dilakukan investor sebagai respons terhadap kebijakan MSCI.

Pembekuan Rebalancing MSCI Picu Pa

Direktur Utama BEI, Iman Rachman, menjelaskan bahwa penurunan IHSG dipicu aksi panic selling yang muncul setelah MSCI membekukan proses rebalancing indeks saham Indonesia.

“Apa yang terjadi hari ini memang ada, menurut saya panic selling karena dua hal yang disampaikan yang jadi concern adalah, pertama untuk di bulan Februari rebalance-nya di-freeze. Jadi, kalau kita terjemahkan apa yang disampaikan tidak ada penambahan atau pengurangan konstituen perusahaan tercatat kita di MSCI,” ungkap Iman di Gedung BEI, Jakarta Selatan, Rabu (28/1/2026).

Pembekuan rebalancing tersebut berlaku hingga Mei 2026 dan membuat investor global menahan bahkan menarik dana dari pasar saham Indonesia.

Risiko Penurunan Status Pasar Jadi Tekanan Tambahan

Selain pembekuan rebalancing, MSCI juga membuka peluang penurunan status pasar modal Indonesia dari kategori Emerging Market menjadi Frontier Market apabila perbaikan tidak berlaku hingga Mei mendatang.

“Artinya, kita mungkin sejajar dengan Vietnam dan Filipina. Kalau kita sekarang kan di emerging market sama dengan Malaysia,” jelas Iman.

Ancaman penurunan status ini makin meningkatkan kekhawatiran investor karena dapat berdampak pada arus modal asing dan bobot saham Indonesia dalam indeks global.

MSCI Bekukan Sejumlah Metodologi Indeks Saham Indonesia

Dalam pengumuman resminya, MSCI menetapkan beberapa perubahan penting pada indeks saham Indonesia untuk Februari 2026. Pertama, pembekuan seluruh kenaikan Foreign Inclusion Factor (FIF) dan Number of Shares (NOS).

Kedua, MSCI membekukan penambahan konstituen ke dalam MSCI Investable Market Indexes (IMI). Ketiga, pembekuan perpindahan naik antar-indeks segmen ukuran, termasuk dari Small Cap ke Standard.

MSCI menyebut kebijakan ini untuk menekan perputaran indeks dan mengurangi risiko kelayakan investasi, sekaligus memberi waktu bagi otoritas pasar meningkatkan transparansi.

Trading Halt Berlaku Saat IHSG Anjlok 8 Persen

Sebagai dampak langsung dari sentimen negatif tersebut, IHSG sempat anjlok hingga 8% di tengah perdagangan sesi II. BEI kemudian memberlakukan trading halt selama 30 menit untuk meredam volatilitas pasar.

Pada penutupan perdagangan Rabu (28/1), IHSG tercatat melemah 7,35% ke level 8.320,55. Volume transaksi mencapai 60,85 miliar saham dengan nilai transaksi Rp45,50 triliun dan frekuensi perdagangan sebanyak 3.990.871 kali.

Data penutupan menunjukkan hanya 37 saham menguat, sementara 753 saham melemah dan 16 saham stagnan.

(Redaksi)

Show More
Back to top button