
IDENESIA.CO – Pencalonan Wakil Menteri Keuangan Thomas Djiwandono sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) menempatkannya kembali di pusat perhatian publik.
Pemerintah menilai Thomas memiliki rekam jejak panjang di sektor keuangan, investasi, dan kebijakan publik yang relevan dengan kebutuhan bank sentral di tengah dinamika ekonomi global.
Presiden Prabowo Subianto mengusulkan tiga nama untuk mengisi posisi Deputi Gubernur BI yang ditinggalkan Juda Agung. Selain Thomas Djiwandono, dua kandidat lainnya berasal dari internal BI, yakni Dicky Kartikoyono dan Solihin M. Juhro. DPR RI melalui Komisi XI menjadwalkan uji kelayakan dan kepatutan terhadap para calon pada Jumat, 23 Januari 2026.
Kandidat dari Unsur Pemerintah
Thomas Djiwandono menjadi satu-satunya calon Deputi Gubernur BI yang berasal dari unsur pemerintah aktif. Saat ini, ia masih menjabat sebagai Wakil Menteri Keuangan dan terlibat langsung dalam perumusan serta pelaksanaan kebijakan fiskal nasional.
Ketua Komisi XI DPR RI, M. Misbakhun, menyatakan bahwa seluruh kandidat akan menjalani proses fit and proper test secara terbuka. DPR akan menilai kompetensi, integritas, serta pemahaman para calon terhadap tugas dan fungsi Bank Indonesia sebagai otoritas moneter.
Lahir dari Keluarga Ekonomi Nasional
Thomas Aquinas Muliatna Djiwandono lahir di Jakarta pada 7 Mei 1972. Ia merupakan putra Soedradjad Djiwandono, mantan Gubernur Bank Indonesia, dan Biantiningsih Miderawati, kakak kandung Presiden Prabowo Subianto.
Ia juga tercatat sebagai cicit R.M. Margono Djojohadikusumo, pendiri Bank BNI 46. Latar belakang keluarga ini membentuk lingkungan yang dekat dengan dunia perbankan, ekonomi, dan kebijakan negara sejak awal kehidupannya.
Dalam kehidupan pribadi, Thomas menganut agama katolik, telah menikah, dan memiliki tiga orang anak.
Pendidikan Internasional sebagai Fondasi
Thomas menempuh pendidikan menengah di SMP Kanisius, Menteng, Jakarta. Ia kemudian melanjutkan pendidikan tinggi di Amerika Serikat dengan meraih gelar sarjana bidang Sejarah dari Haverford College, Pennsylvania.
Ia memperdalam keilmuan ekonomi dan hubungan internasional di Johns Hopkins University School of Advanced International Studies (SAIS), Washington D.C. Fokus studinya pada Hubungan Internasional dan Ekonomi Internasional menjadi bekal penting dalam memahami dinamika ekonomi global dan kebijakan moneter.
Mengawali Karier dari Dunia Jurnalistik
Sebelum dikenal sebagai ekonom dan pejabat negara, Thomas memulai kariernya di dunia jurnalisme. Ia menjadi wartawan magang di Majalah Tempo pada 1993 dan melanjutkan kiprah sebagai jurnalis di Indonesia Business Weekly.
Pengalaman tersebut membentuk cara berpikir kritis dan kemampuan analisisnya sebelum akhirnya beralih ke sektor keuangan.
Berkiprah di Pasar Keuangan dan Korporasi
Thomas memasuki dunia keuangan sebagai analis di NatWest Market Jakarta pada 1996–1999. Ia kemudian bekerja di Wheelock NatWest Securities, Hong Kong, yang memperluas pengalamannya di pasar keuangan internasional.
Ia sempat berkarier sebagai konsultan di Castle Asia sebelum bergabung dengan Comexindo Internasional. Di perusahaan tersebut, Thomas menempati berbagai posisi strategis, mulai dari Direktur Pengembangan Bisnis, Deputi CEO, hingga CEO sejak 2010 hingga 2024.
Selain itu, Thomas juga menjabat sebagai Deputi CEO Arsari Group pada periode 2011–2024, memperkuat pengalamannya di bidang investasi dan pengelolaan aset.
Peran Politik dan Pengunduran Diri dari Partai
Di ranah politik, Thomas sebagai Bendahara Umum Partai Gerindra sejak 2014. Ia berperan penting dalam pengelolaan keuangan partai dan logistik politik, termasuk saat Pilpres 2014.
Namun, seiring pencalonannya sebagai Deputi Gubernur BI, Thomas telah mengundurkan diri dari keanggotaan partai. Langkah tersebut untuk memenuhi ketentuan yang mewajibkan pejabat bank sentral bersikap independen dan bebas dari afiliasi politik.
Menjabat Wakil Menteri Keuangan
Thomas dilantik sebagai Wakil Menteri Keuangan II pada 18 Juli 2024 berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 45/M Tahun 2024. Dalam jabatan tersebut, ia mendukung langsung kebijakan fiskal pemerintah dan pengelolaan investasi negara.
Di bawah kepemimpinan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dalam Kabinet Merah Putih, Thomas memegang peran strategis dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional di masa transisi pemerintahan.
Menanti Keputusan DPR
Dengan latar belakang keluarga perbankan, pendidikan internasional, serta pengalaman panjang di sektor keuangan dan pemerintahan, Thomas Djiwandono kini menghadapi tahapan krusial dalam kariernya.
Uji kelayakan dan kepatutan di DPR RI akan menentukan apakah ia resmi melangkah menjadi Deputi Gubernur Bank Indonesia dan melanjutkan kontribusinya dalam menjaga stabilitas moneter nasional.
(Redaksi)

