Internasional

Kasus Bunuh Diri Tentara Israel Terus Bertambah Sejak Perang Gaza

IDENESIA.CO – Satu lagi tentara Israel meninggal dunia akibat bunuh diri di sebuah pangkalan militer di wilayah Israel utara. Peristiwa tersebut menambah panjang daftar kematian akibat bunuh diri di tubuh militer Israel sejak pecahnya perang Gaza pada Oktober 2023. Berdasarkan laporan media lokal, total jumlah tentara Israel yang tewas karena bunuh diri kini mencapai 61 orang.

Media Israel Haaretz, seperti dikutip Anadolu Agency pada Kamis (18/12/2025), melaporkan bahwa tentara tersebut merupakan prajurit wajib militer. Insiden terjadi ketika yang bersangkutan menembak dirinya sendiri di dalam area pangkalan. Tentara itu sempat mendapatkan perawatan medis intensif setelah mengalami luka kritis, namun akhirnya meninggal dunia di rumah sakit pada Selasa malam waktu setempat.

Militer Israel sebelumnya hanya menyampaikan keterangan singkat terkait insiden tersebut. Pihak militer menyebut seorang tentara mengalami luka tembak parah di pangkalan militer di Israel utara dan segera dilarikan ke rumah sakit. Beberapa waktu kemudian, tentara tersebut dinyatakan meninggal dunia. Polisi militer Israel langsung membuka penyelidikan untuk mengungkap latar belakang kejadian tersebut.

Lonjakan Percobaan Bunuh Diri di Kalangan Tentara Israel

Data resmi menunjukkan bahwa kasus bunuh diri di kalangan tentara Israel tidak berdiri sendiri. Pusat Penelitian dan Informasi Knesset mencatat sebanyak 279 tentara Israel mencoba bunuh diri sejak awal 2024 hingga Juli 2025. Dari angka tersebut, tercatat sekitar satu kasus bunuh diri yang berakhir fatal untuk setiap tujuh percobaan.

Laporan tersebut mengindikasikan adanya tekanan psikologis yang signifikan di kalangan personel militer Israel, khususnya sejak perang di Gaza berlangsung. Militer Israel sendiri sebelumnya telah mengonfirmasi bahwa sebanyak 48 tentara meninggal akibat bunuh diri selama menjalani dinas militer sejak konflik dimulai pada Oktober 2023.

Selain itu, laporan Haaretz juga menyebutkan bahwa setidaknya 13 tentara Israel lainnya meninggal akibat bunuh diri di luar masa dinas aktif. Kasus-kasus tersebut berkaitan dengan masalah psikologis yang dialami setelah menjalani tugas militer. Dari jumlah itu, enam tentara tercatat meninggal sejak awal tahun 2025.

Jika digabungkan, jumlah total tentara Israel yang meninggal akibat bunuh diri sejak awal perang Gaza mencapai 61 orang. Angka tersebut menempatkan krisis kesehatan mental sebagai salah satu tantangan serius yang dihadapi militer Israel dalam beberapa tahun terakhir.

Data Tahunan Ungkap Tren yang Mengkhawatirkan

Haaretz juga memaparkan data tahunan yang memperlihatkan tren bunuh diri di tubuh militer Israel. Sepanjang tahun 2024, tercatat 20 tentara Israel meninggal akibat bunuh diri. Sementara itu, sejak awal 2025 hingga Juli, jumlahnya mencapai 16 orang. Setelah periode tersebut, setidaknya empat tentara Israel kembali dilaporkan meninggal karena bunuh diri.

Angka-angka ini menimbulkan perhatian luas di Israel, terutama karena terjadi di tengah operasi militer yang berkepanjangan di Gaza. Tekanan fisik dan mental akibat konflik bersenjata yang terus berlangsung dinilai menjadi faktor penting yang memengaruhi kondisi psikologis para tentara.

Militer Israel menghadapi tantangan besar dalam menjaga kesehatan mental pasukannya, terutama bagi mereka yang terlibat langsung dalam pertempuran. Banyak tentara harus menghadapi pengalaman traumatis, kehilangan rekan satuan, serta tekanan operasional yang intens dalam waktu lama.

Situasi ini juga mendorong diskusi publik di Israel mengenai kesiapan sistem pendukung kesehatan mental di tubuh militer. Sejumlah pihak menilai bahwa peningkatan jumlah kasus bunuh diri mencerminkan kebutuhan mendesak akan pendekatan yang lebih komprehensif dalam menangani kesejahteraan psikologis tentara.

Militer Israel Akui Krisis Kesehatan Mental Memburuk

Kepala Staf Israel, Eyal Zamir, sebelumnya secara terbuka mengakui bahwa militer Israel menghadapi krisis kesehatan mental yang semakin memburuk. Pernyataan tersebut disampaikan pada Oktober lalu, ketika Zamir menyoroti meningkatnya jumlah tentara yang membutuhkan perawatan psikologis.

Zamir menyebut ribuan tentara Israel saat ini menerima dukungan dan perawatan kesehatan mental. Ia juga meminta para komandan unit untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap kondisi psikologis prajurit di bawah komando mereka. Menurut Zamir, deteksi dini dan penanganan cepat menjadi kunci untuk mencegah dampak yang lebih serius.

“Kesehatan mental tentara harus menjadi perhatian utama,” kata Zamir dalam pernyataannya. Ia menekankan pentingnya memastikan bahwa tentara yang menunjukkan tanda-tanda tekanan psikologis segera mendapatkan bantuan profesional.

Laporan dari lembaga penyiaran publik Israel, KAN, yang diterbitkan pada akhir Juli lalu, memperkuat pernyataan tersebut. KAN melaporkan bahwa hampir 10.000 tentara Israel dari sekitar 19.000 tentara yang terluka dalam perang Gaza mengalami gangguan psikologis. Gangguan tersebut mencakup stres pasca-trauma atau post-traumatic stress disorder (PTSD).

Sebagian besar tentara yang mengalami gangguan psikologis kini menjalani perawatan di Departemen Rehabilitasi Kementerian Pertahanan Israel. Lembaga tersebut menangani pemulihan fisik dan mental bagi para tentara yang terdampak konflik.

Lonjakan kasus bunuh diri dan gangguan psikologis ini menempatkan isu kesehatan mental sebagai salah satu dampak serius dari perang Gaza yang terus berlangsung. Militer Israel kini menghadapi tantangan ganda, yakni menjaga kesiapan operasional pasukan sekaligus memastikan kesejahteraan mental personel di tengah konflik berkepanjangan.

Perkembangan terbaru ini menunjukkan bahwa dampak perang tidak hanya terlihat di medan tempur, tetapi juga meninggalkan luka mendalam pada kondisi psikologis para tentara. Situasi tersebut mendorong perhatian internasional terhadap pentingnya perlindungan kesehatan mental dalam konflik bersenjata modern.

(Redaksi)

Show More
Back to top button