
IDENESIA.CO – Pasukan darat Israel berhasil menguasai benteng bersejarah Beaufort Castle di wilayah Lebanon selatan. Rekaman video dari kamera tubuh tentara memperlihatkan sekumpulan serdadu bergerak melalui reruntuhan benteng abad pertengahan tersebut lalu mengibarkan bendera Israel di puncak bukit. Pemerintah Israel menyatakan bahwa keberhasilan menguasai lokasi strategis ini menandai perubahan penting dalam konfrontasi militer saat ini. Peristiwa perebutan Beaufort Castle ini memicu reaksi keras dari pemerintah Lebanon serta komunitas internasional.
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mengonfirmasi pencapaian militer tersebut dalam pernyataan resminya pada Minggu (31/05). Netanyahu menegaskan bahwa tindakan ini mencerminkan arah kebijakan baru negaranya yang lebih ofensif. Pemerintah Israel mengklaim telah mengambil inisiatif serangan dan kini beroperasi secara aktif di berbagai front, termasuk Suriah, Gaza, dan Lebanon. Operasi darat ini menandai pergerakan pasukan Israel yang semakin jauh ke dalam wilayah Lebanon hingga melewati garis demarkasi Sungai Litani.
Nilai Strategis dan Sejarah Panjang Benteng
Pihak militer Israel (IDF) langsung mengeluarkan peringatan baru agar warga sipil segera mengungsi dari wilayah Lebanon selatan setelah keberhasilan operasi tersebut. Di sisi lain, Perdana Menteri Lebanon, Nawaf Salam, melayangkan protes keras terhadap pergerakan pasukan Israel. Salam menuduh pihak Israel menerapkan hukuman kolektif terhadap warga sipil Lebanon melalui eskalasi militer ini. Langkah ofensif terbaru dari militer Israel ini juga memicu gelombang kritik dari negara-negara Eropa seperti Inggris, Prancis, dan Jerman.
Meskipun mendapat kecaman internasional, militer Israel tetap melanjutkan operasi mereka di kawasan Lebanon selatan. Perebutan Beaufort Castle oleh tentara Israel pada tahun ini sebenarnya bukan merupakan peristiwa yang pertama kali terjadi dalam sejarah konflik kedua negara. Pasukan Israel tercatat pernah merebut dan menguasai benteng yang sama persis sekitar 44 tahun yang lalu. Pihak Israel mengenang peristiwa masa lalu tersebut sebagai bagian penting dari Perang Lebanon Pertama.
Sejarah mencatat bahwa kompleks benteng di puncak bukit berbatu ini memiliki nilai taktis yang sangat tinggi sejak zaman kuno. Beberapa sejarawan meyakini bahwa pasukan dari era Fenisia atau Romawi merupakan pihak pertama yang membangun sistem pertahanan di perbukitan tersebut. Namun, bangunan fisik kastel yang berdiri saat ini sebagian besar merupakan peninggalan dari era Perang Salib pada abad ke-12. Pada masa itu, pasukan Eropa mendirikan banyak benteng pertahanan untuk mengamankan jalur logistik antara wilayah pesisir dan kota-kota pedalaman.
Posisi Geografis di Jalur Pertempuran Modern
Pemimpin Muslim yang terkenal, Salahuddin Al-Ayyubi, berhasil merebut benteng indah ini dari tangan pasukan Salib sekitar tahun 1190. Keberhasilan Salahuddin tersebut mengubah peta kekuatan militer di seluruh kawasan Levant pada abad pertengahan. Sumber sejarah Eropa menyebut tempat ini dengan nama Beaufort yang memiliki arti benteng yang indah dalam bahasa Prancis kuno. Sementara itu, masyarakat setempat mengenal situs ini dengan nama Arab Qal’at al-Shaqif atau Shaqif Arnoun yang berarti Kastel Batu Tinggi.
Arsitektur bangunan purbakala ini mencerminkan perpaduan unik antara gaya desain benteng Eropa Barat dan elemen arsitektur Islam Timur. Karena nilai sejarahnya yang sangat tinggi, organisasi internasional memasukkan Beaufort ke dalam situs warisan budaya yang dilindungi. Kompleks ini resmi berada di bawah perlindungan Konvensi Den Haag untuk Perlindungan Properti Budaya dalam Konflik Bersenjata sejak tahun 2024. Regulasi internasional ini melarang keras segala bentuk perusakan atau pemanfaatan situs militer selama masa perang.
Memasuki paruh kedua abad ke-20, posisi geografis Beaufort Castle kembali menjadikannya sebagai titik pusat dalam konflik Arab-Israel. Profesor Asher Kaufman dari University of Notre Dame menjelaskan bahwa benteng ini berfungsi sebagai basis pertahanan gerilyawan Palestina dari tahun 1970-an hingga Juni 1982. Posisi benteng yang sangat tinggi memungkinkan para petempur untuk mengawasi pergerakan musuh di wilayah geografis yang sangat luas. Hal ini membuat kompleks kastel menjadi target serangan utama dalam setiap fase pertempuran.
Dampak Politik dan Reaksi Uni Eropa
Selama invasi besar-besaran Israel pada tahun 1982, wilayah sekitar benteng menjadi lokasi pertempuran yang paling berdarah. Kaufman menyebut Pertempuran Shaqif sebagai salah satu bentrokan bersenjata yang paling membekas dalam memori militer Israel maupun Lebanon. Setelah memenangkan pertempuran pada 6 Juni 1982, Israel mengubah benteng kuno tersebut menjadi pos pengamatan militer yang kuat. Pasukan Israel mempertahankan posisi mereka di dalam zona keamanan Lebanon selatan tersebut sampai akhirnya mundur pada tahun 2000.
Secara geografis, kastel ini berdiri tegak di atas bukit berbatu dekat Kota Arnoun yang termasuk dalam wilayah Kegubernuran Nabatieh. Dari titik tertinggi benteng, pengamat dapat melihat dengan jelas wilayah Israel utara, dataran rendah Lebanon selatan, serta seluruh Lembah Litani. Siapa pun yang menguasai bukit ini akan memegang kendali penuh atas rute-rute transportasi utama menuju wilayah selatan. Struktur interior benteng yang memiliki lorong sempit, tangki air besar, dan sumur dalam juga memungkinkan pasukan bertahan dari pengepungan panjang.
Pengamat Timur Tengah dari Chatham House, Dr. Lina Khatib, menilai bahwa peristiwa perebutan Beaufort Castle kali ini membawa dampak psikologis yang besar. Khatib menyatakan bahwa keberhasilan infiltrasi Israel menonjolkan kelemahan sistem pertahanan Hizbullah di perbatasan. Operasi darat ini membuktikan bahwa militer Israel mampu memperluas wilayah pendudukan mereka tanpa hambatan berarti dari militer lawan. Kondisi ini menurunkan moral para pendukung kelompok perlawanan di Lebanon secara signifikan.
Masyarakat Lebanon memandang Beaufort Castle bukan sekadar fasilitas militer, melainkan simbol identitas sejarah dan kekayaan budaya bangsa. Otoritas lokal di Kota Arnoun mengecam keras tindakan pengambilalihan dan pengibaran bendera asing di situs bersejarah tersebut. Uni Eropa melalui juru bicara resmi mereka, Anouar El Anouni, menuntut penghentian segera seluruh aktivitas militer di area lindung tersebut. Uni Eropa mendesak pemerintah Israel untuk menghormati hukum internasional terkait kedaulatan wilayah serta integritas teritorial negara Lebanon.
(Redaksi)




