
IDENESIA.CO – Kepala Pusat Riset Teknologi Kelistrikan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Eka Rakhman, menepis narasi mengenai keberadaan medan magnet besar di rel kereta api. Ia menegaskan bahwa hasil riset tidak menemukan bukti adanya gelombang elektromagnetik yang mampu mematikan mesin kendaraan secara mendadak. Penjelasan resmi ini merespons spekulasi publik setelah kecelakaan maut di Stasiun Bekasi Timur yang menelan 16 korban jiwa pada bulan lalu.
Tragedi yang melibatkan KA Argo Bromo Anggrek dan Kereta Rel Listrik (KRL) tersebut memicu perdebatan luas di media sosial. Banyak pihak mengklaim bahwa gangguan elektromagnetik menjadi penyebab utama mobil berhenti di tengah rel. Namun, pihak BRIN secara tegas menyatakan bahwa fenomena tersebut tidak memiliki dasar ilmiah.
Ketiadaan Medan Magnet di Perlintasan Secara Teknis
Banyak orang menduga bahwa mobil mati di atas rel akibat pengaruh lingkungan elektromagnetik yang kuat. Namun, Eka Rakhman membantah hal tersebut berdasarkan data pengujian lapangan yang konkret. Ia menjelaskan bahwa tim riset sudah mengukur kekuatan magnet pada sistem perkeretaapian nasional sejak era LIPI. Oleh karena itu, data yang mereka miliki sangat akurat dan komprehensif.
“Hasil pengujian kami tidak menunjukkan adanya medan magnet yang besar sekali di area rel kereta,” ujar Eka dalam diskusi Media Lounge Discussion (Melodi) di Gedung BRIN Jakarta, Rabu (13/5/2026). Selain itu, ia menambahkan bahwa tim peneliti memasang sensor khusus untuk mendeteksi gelombang saat kereta melintas secara langsung.
Hasil pengukuran menunjukkan kekuatan medan magnet di perlintasan hanya mencapai angka 82,6 mikrotesla. Angka ini sangat kecil jika kita bandingkan dengan ambang batas kerusakan perangkat elektronik pada umumnya. Sebagai perbandingan, sebuah hard disk baru akan mengalami gangguan jika terkena medan magnet sebesar 0,18 tesla. Dengan demikian, radiasi pada rel kereta api tidak memiliki kekuatan untuk menghentikan mesin kendaraan.
Alasan Fisika Rel Tidak Memiliki Radiasi Besar
Selanjutnya, Eka menjelaskan alasan teknis mengapa rel kereta tidak mungkin memancarkan radiasi magnetik yang membahayakan. Hal ini terjadi karena sistem perkeretaapian menyambung seluruh jalur rel langsung ke tanah atau bumi. Tanah berfungsi sebagai penetralisir yang menyerap seluruh sisa energi listrik sehingga medan magnet tidak akan keluar ke permukaan secara liar.
“Rel itu menyambung ke tanah. Jadi, energi tersebut sudah habis terserap ke tanah atau bumi. Sangat mustahil jika rel memancarkan medan magnet yang mampu mematikan mesin,” tegas Eka. Meskipun demikian, publik sering kali mempercayai narasi yang salah mengenai fenomena ini tanpa merujuk pada data ilmiah.
Selain itu, Eka menyebutkan bahwa medan magnet bumi sendiri memiliki kekuatan yang konstan. Nilai mikrotesla yang mereka temukan di rel bahkan masih berada dalam batas aman lingkungan manusia. Oleh karena itu, masyarakat tidak perlu khawatir mengenai pengaruh radiasi saat melewati jalur kereta api asalkan kondisi kendaraan dalam keadaan prima.
Penyebab Logis Kendaraan Mogok di Rel
Oleh karena itu, ia menawarkan beberapa kemungkinan penyebab mobil mogok yang lebih masuk akal secara mekanis. Pertama, pengemudi mobil manual sering kali mengalami panic stall atau mati mesin akibat rasa panik yang hebat. Kondisi psikologis ini membuat koordinasi antara pedal kopling dan gas menjadi tidak selaras.
Kedua, kondisi permukaan jalan pada perlintasan sebidang sering kali tidak rata atau memiliki gundukan yang cukup tajam. Hal ini bisa menyebabkan kendaraan mengalami guncangan hebat yang mengganggu aliran bahan bakar. Ketiga, sistem kelistrikan pada mobil modern mungkin mengalami reset mendadak akibat guncangan fisik pada sambungan baterai atau aki.
Selanjutnya, faktor usia kendaraan dan perawatan mesin juga memegang peranan penting. Mobil yang tidak dalam kondisi optimal lebih rentan mengalami mati mesin saat melewati hambatan fisik seperti rel. Dengan demikian, aspek teknis kendaraan dan kesiapan pengemudi merupakan faktor yang jauh lebih relevan daripada isu elektromagnetik.
Istilah Impedance Effect Merupakan Hoaks Belaka
Selain membahas masalah teknis, Eka juga mengklarifikasi istilah impedance effect yang viral di media sosial. Ia menegaskan bahwa istilah tersebut sama sekali tidak memiliki dasar ilmiah dalam literatur perkeretaapian maupun kelistrikan global. Menurutnya, narasi terkait efek impedansi ini hanya merupakan karangan pihak tertentu yang muncul kembali pasca kecelakaan.
“Saya sudah mencari istilah impedance effect ini di berbagai jurnal ilmiah sejak tahun 2013 dan tidak menemukannya. Jadi, ini murni karangan saja,” sambung Eka. Ia merasa perlu meluruskan hal ini agar masyarakat tidak terjebak dalam informasi yang menyesatkan. Oleh karena itu, ia meminta semua pihak untuk berhenti menyebarkan narasi bohong tersebut.
Eka menambahkan bahwa istilah ini pernah populer saat kecelakaan di Stasiun Pondok Ranji beberapa tahun silam. Namun, hingga saat ini, tidak ada satu pun peneliti dunia yang mengakui keberadaan efek tersebut pada perlintasan kereta api. Selanjutnya, ia mengajak masyarakat untuk lebih kritis dalam memilah informasi yang beredar di internet.
Menunggu Hasil Investigasi Resmi KNKT
Selanjutnya, ia mengimbau publik untuk menunggu hasil investigasi resmi dari Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT). Investigasi tersebut akan memeriksa data teknis pada mobil, termasuk rekaman data elektronik jika tersedia. Dengan cara ini, penyebab pasti kecelakaan di Bekasi Timur dapat terungkap secara transparan berdasarkan bukti fisik.
“Stop menghentikan hoaks terkait dengan efek impedansi. Kita harus menunggu hasil investigasi dari KNKT dan pemeriksaan data pada mobil tersebut,” tutur Eka. Ia menekankan bahwa spekulasi tanpa dasar hanya akan menambah beban mental bagi keluarga korban. Selain itu, investigasi ini juga akan melibatkan pemeriksaan terhadap sistem pengereman kereta api.
Kerjasama antara BRIN dan KNKT diharapkan mampu memberikan jawaban yang tuntas bagi publik. Dengan demikian, fakta mengenai medan magnet di perlintasan tidak lagi menjadi bahan spekulasi yang menakutkan bagi para pengguna jalan. Penegakan aturan pada perlintasan sebidang tetap menjadi prioritas utama untuk menekan angka kecelakaan.
Edukasi Keselamatan di Perlintasan Sebidang
Terakhir, Eka menekankan pentingnya edukasi bagi pengemudi saat melewati perlintasan sebidang di mana pun berada. Ia berharap masyarakat lebih fokus pada aspek keselamatan berkendara, seperti mematuhi rambu dan memastikan kendaraan tetap bergerak. Kesadaran ini sangat krusial guna mencegah kecelakaan serupa terulang kembali di masa depan.
Masyarakat harus memastikan kondisi mesin dalam keadaan stabil sebelum melintasi rel. Selain itu, pengemudi perlu menjaga ketenangan agar tidak mengalami panic stall saat melihat kereta mendekat. Dengan cara ini, risiko kendaraan terjebak di tengah rel dapat berkurang secara signifikan.
Pemerintah juga perlu memperhatikan infrastruktur jalan di sekitar perlintasan agar tetap rata dan aman bagi semua jenis kendaraan. Sinergi antara teknologi, edukasi, dan infrastruktur akan menciptakan sistem transportasi yang lebih aman bagi warga. Peneliti BRIN akan terus memberikan pendampingan ilmiah untuk memastikan kebijakan keselamatan transportasi berlandaskan pada data yang valid mengenai medan magnet di perlintasan.
(Redaksi)

