Daerah
Trending

Rayakan Idulfitri, Pusat Rehabilitasi Kaltim Latih Orang Utan dengan Ketupat

IDENESIA.CO — Perayaan Idulfitri 1447 Hijriah menghadirkan suasana berbeda di sejumlah pusat rehabilitasi satwa di Kalimantan Timur.

Tradisi khas Lebaran seperti ketupat kini dimanfaatkan sebagai bagian dari metode pengayaan perilaku atau enrichment bagi orang utan yang tengah menjalani masa pemulihan.

Alih-alih diberikan makanan secara langsung, para pengelola membungkus pakan dalam anyaman ketupat dan menggantungnya di area bermain atau pepohonan.

Metode ini dikenal sebagai “ketupat enrichment”, yang bertujuan melatih kemampuan fisik dan kognitif satwa.

Metode ini diterapkan di Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Long Sam, Kampung Merasa, Kabupaten Berau, yang dikelola oleh Conservation Action Network.

Di lokasi tersebut, empat bayi orang utan tampak aktif memanjat dan bergelantungan untuk meraih ketupat berisi makanan.

Penempatan ketupat yang sengaja dibuat menantang mendorong satwa untuk menggunakan kemampuan alaminya.

Mereka tidak hanya harus memanjat, tetapi juga berpikir untuk membuka anyaman ketupat demi mendapatkan makanan di dalamnya.

Founder sekaligus Direktur Conservation Action Network, Paulinus Kristanto, mengatakan bahwa metode ini dirancang menyerupai kondisi di habitat asli.

“Satwa harus memanjat, bergelantungan, dan mencari cara membuka makanan. Ini penting untuk melatih kemampuan fisik dan kognitif mereka,” ujarnya, Sabtu (28/3).

Stimulasi Mental dan Ketangkasan

Selain melatih fisik, proses membuka ketupat juga membantu meningkatkan ketangkasan jemari serta kesabaran satwa.

Hal ini menjadi penting mengingat orang utan termasuk primata dengan tingkat kecerdasan tinggi yang membutuhkan stimulasi mental berkelanjutan.

Metode serupa juga diterapkan oleh Center for Orangutan Protection melalui program Bornean Orangutan Rescue Alliance (BORA) di Kabupaten Berau.

Dalam program tersebut, ketupat diisi dengan berbagai makanan seperti buah, madu, hingga selai, lalu digunakan saat sesi “sekolah hutan”.

Manajer BORA, Widi Nursanti, menegaskan bahwa *enrichment* merupakan elemen krusial dalam rehabilitasi.

“Satwa tidak hanya makan, tetapi juga belajar dan berpikir. Ini melatih kemampuan problem solving dan merangsang indra mereka,” jelasnya.

Cegah Kebosanan, Jaga Kesehatan Mental

Tanpa pengayaan yang cukup, satwa berisiko mengalami kejenuhan yang berdampak pada perilaku dan kesehatan mental.

Oleh karena itu, inovasi seperti ketupat enrichment dinilai efektif menjaga keseimbangan antara kebutuhan fisik dan psikologis satwa.

Pendekatan ini juga mendapat dukungan dari pemerintah. Kepala BKSDA Kalimantan Timur, M Ari Wibawanto, menyebut metode tersebut sebagai langkah kreatif dalam proses rehabilitasi.

“Ketupat bukan hanya simbol Lebaran, tetapi juga alat pembelajaran bagi satwa untuk menggunakan kemampuan alaminya,” ujarnya.

Pengayaan perilaku menjadi salah satu kunci keberhasilan rehabilitasi sebelum satwa dilepasliarkan ke alam. Tidak hanya kondisi fisik, kemampuan beradaptasi dan bertahan hidup juga menjadi faktor utama.

Menurut Ari, inovasi sederhana seperti ini memiliki dampak besar dalam jangka panjang. Satwa yang terus dilatih melalui berbagai metode enrichment memiliki peluang lebih besar untuk bertahan hidup di habitat aslinya.

“Momen Lebaran menjadi simbol harapan. Setiap proses belajar adalah langkah menuju kebebasan mereka di alam liar,” katanya.

Fenomena ini menunjukkan bahwa tradisi budaya dapat diintegrasikan dengan upaya pelestarian lingkungan. Ketupat, yang selama ini menjadi simbol kebersamaan saat Lebaran, kini juga berperan sebagai media edukasi bagi satwa.

Pendekatan kreatif ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi lembaga konservasi lainnya untuk mengembangkan metode serupa—menggabungkan nilai budaya lokal dengan strategi pelestarian yang inovatif dan berkelanjutan. (*)

Show More
Back to top button