
IDENESIA.CO – Starcloud memperkuat rencana membangun infrastruktur kecerdasan artifisial (AI) di orbit setelah startup tersebut memperoleh pendanaan tambahan sebesar US$250 juta. Suntikan modal itu membuat valuasi Starcloud mencapai US$2,3 miliar atau sekitar Rp40,77 triliun.
Pendanaan terbaru tersebut memperpanjang putaran Seri A senilai US$170 juta yang Starcloud peroleh pada Maret 2026. Dengan tambahan dana itu, total modal yang Starcloud himpun sejak berdiri pada 2024 mencapai US$450 juta.
Manhattan West memimpin putaran pendanaan tersebut. Sejumlah investor lama seperti Benchmark, EQT, Soma, NFX, dan 776 kembali memberikan dukungan. Sementara itu, Nvidia, Cisco Investments, Cedar Capital, Goanna Capital, dan Standard Capital masuk sebagai investor baru.
Starcloud Data Center Luar Angkasa Dapat Dukungan Nvidia
Masuknya Nvidia menjadi salah satu perkembangan penting dalam pendanaan Starcloud. Kedua perusahaan sebelumnya sudah bekerja sama dalam pengembangan komputasi AI di orbit.
Starcloud membawa GPU Nvidia H100 ke luar angkasa melalui satelit Starcloud-1 pada November 2025. Perusahaan kemudian menggunakan perangkat tersebut untuk menjalankan komputasi AI di orbit dan mengembangkan pengalaman dalam pengoperasian GPU berperforma tinggi di lingkungan luar angkasa.
Starcloud dan Nvidia kini mengembangkan generasi berikutnya melalui Nvidia Space-1 Vera Rubin Module. Nvidia merancang modul tersebut untuk menghadapi kondisi ekstrem di luar angkasa, termasuk paparan radiasi dan kebutuhan pendinginan melalui radiator. Starcloud menargetkan penggunaan teknologi tersebut pada misi mendatang.
Starcloud juga menyatakan telah menjalankan sejumlah eksperimen komputasi AI di orbit. Perusahaan mengklaim telah melatih model AI di luar angkasa, menjalankan versi awal Gemini, serta menguji proses inference dan fine-tuning menggunakan perangkat keras yang berada di orbit.
Pendanaan untuk Perluas Produksi dan Peluncuran
Starcloud akan menggunakan dana US$250 juta untuk memperbesar kapasitas manufaktur, mengembangkan teknologi bersama Nvidia, serta mengamankan kapasitas peluncuran untuk misi berikutnya. Langkah tersebut menjadi bagian penting dari rencana perusahaan memperluas layanan komputasi berbasis orbit.
Starcloud saat ini mengembangkan Starcloud-3, wahana data center orbital berukuran lebih besar. Perusahaan juga menyiapkan lini produksi di fasilitas seluas sekitar 100.000 kaki persegi di Woodinville, Washington. Fasilitas tersebut akan mendukung pengembangan dan produksi pesawat ruang angkasa generasi berikutnya.
Dalam jangka panjang, Starcloud menargetkan konstelasi hingga 88.000 satelit dengan kapasitas komputasi orbital mencapai 20 gigawatt. Namun, target tersebut masih menjadi rencana jangka panjang dan membutuhkan pengembangan teknologi serta infrastruktur peluncuran dalam skala besar.
Perusahaan juga menghadapi tantangan dalam memperoleh kapasitas peluncuran. Starcloud perlu mendapatkan slot roket dalam jumlah besar agar dapat membangun konstelasi satelit sesuai rencana.
Untuk tahap awal, Starcloud berencana meluncurkan dua satelit komputasi generasi baru pada 2027 melalui penerbangan rideshare. Perusahaan juga mempertimbangkan penggunaan peluncuran khusus dan kerja sama dengan penyedia roket lain untuk memperluas akses ke orbit.
Starcloud pada akhirnya mengandalkan kemampuan roket generasi berikutnya untuk mendukung pembangunan konstelasi berskala besar. Starcloud-3 direncanakan menggunakan roket Starship milik SpaceX, sementara perusahaan harus terus memastikan ketersediaan kapasitas peluncuran untuk menjalankan ekspansi tersebut.
Dengan pendanaan baru ini, Starcloud memiliki modal lebih besar untuk mengembangkan data center luar angkasa. Namun, perusahaan masih harus membuktikan kemampuan teknologi dan membangun infrastruktur peluncuran yang memadai sebelum rencana komputasi AI dalam skala besar benar-benar terwujud.
(Redaksi)

