
IDENESIA.CO – Militer Yordania secara terbuka mengakui keterlibatan Angkatan Udara-nya dalam serangan udara besar-besaran terhadap target-target kelompok Islamic State (ISIS) di wilayah Suriah selatan, menyusul operasi militer yang dipimpin Amerika Serikat pada Jumat malam waktu setempat.
Operasi militer tersebut menjadi respons langsung atas tewasnya tiga warga Amerika dalam serangan bersenjata yang dilakukan ISIS di wilayah Suriah tengah
Pemerintah Amerika Serikat menyatakan bahwa operasi ini merupakan aksi pembalasan setelah seorang anggota ISIS menembak mati dua tentara Amerika Serikat dan satu warga sipil AS di kawasan Palmyra pada 13 Desember lalu.
Tujuan Keterlibatan Militer Yordania
Dalam pernyataan resmi yang dikutip Al Arabiya English pada Minggu (21/12/2025), Angkatan Bersenjata Yordania menyatakan pihaknya bergabung dalam operasi tersebut guna menghambat ISIS memanfaatkan wilayah Suriah sebagai basis peluncuran serangan terhadap negara-negara tetangga.
Militer Yordania menilai daerah-daerah tertentu di Suriah selatan berpotensi digunakan kelompok ekstremis sebagai tempat persembunyian dan pusat perencanaan aksi teror, sehingga perlu dilakukan operasi pencegahan secara terpadu bersama sekutu internasional.
Amerika Serikat Pimpin Serangan Udara
Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengonfirmasi bahwa pihaknya melancarkan serangan terhadap lebih dari 70 target ISIS yang tersebar di berbagai lokasi di Suriah tengah.
Dalam pernyataan resminya, CENTCOM menyebutkan bahwa operasi ini menggunakan kombinasi kekuatan udara dan persenjataan jarak jauh untuk menghancurkan infrastruktur, gudang senjata, serta titik konsentrasi militan ISIS.
Amerika Gunakan Lebih dari 100 Amunisi
Amerika Serikat menggunakan lebih dari 100 amunisi presisi dalam serangan terkoordinasi itu
CENTCOM menegaskan bahwa serangan dilakukan secara presisi dengan tujuan meminimalkan dampak terhadap warga sipil dan hanya menyasar fasilitas serta posisi ISIS yang telah teridentifikasi sebelumnya.
Lima Anggota ISIS Tewas Dalam Serangan Tersebut
Observatorium Hak Asasi Manusia Suriah menyatakan bahwa serangan udara AS menewaskan sedikitnya lima anggota ISIS, termasuk seorang pemimpin sel penting di wilayah Suriah timur.
Kepala Observatorium HAM Suriah, Rami Abdel Rahman, mengatakan kepada AFP bahwa salah satu korban tewas merupakan pemimpin sel ISIS yang mengendalikan operasi drone di provinsi Deir Ezzor.
SeranganUdara Sasar Wilayah Gurun Badia
Sumber keamanan Suriah mengungkapkan bahwa pasukan Amerika Serikat menargetkan sel-sel ISIS yang beroperasi di kawasan gurun Badia, termasuk di provinsi Homs, Deir Ezzor, dan Raqa.
Sumber keamanan tersebut menegaskan bahwa seluruh rangkaian serangan dilakukan dari udara tanpa operasi darat, mengingat medan yang sulit serta luasnya wilayah target.
Wilayah yang menjadi sasaran utama serangan meliputi kawasan pegunungan yang membentang di utara Palmyra hingga mendekati Deir Ezzor, yang selama ini dikenal sebagai jalur pergerakan sel-sel ISIS.
Palmyra Jadi Sorotan Miliki Nilai Strategis
Kota Palmyra, yang menjadi lokasi serangan mematikan terhadap warga AS, merupakan situs bersejarah yang terdaftar sebagai Warisan Dunia UNESCO dan pernah dikuasai ISIS pada puncak konflik Suriah.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyampaikan pernyataan tegas melalui akun Truth Social miliknya terkait operasi balasan tersebut.
Trump Nyatakan Amerika Balas Dendam
Dalam unggahannya, Trump menegaskan bahwa Amerika Serikat akan menghukum para pelaku teror dengan kekuatan yang jauh lebih besar dari sebelumnya.
“Mereka yang menyerang warga Amerika AKAN DIPUKUL LEBIH KERAS DARIPADA YANG PERNAH ANDA ALAMI SEBELUMNYA,” tulis Trump, menggunakan huruf kapital sebagaimana gaya komunikasinya.
Keterlibatan Yordania dalam serangan udara ini memperlihatkan konsolidasi kekuatan regional dan internasional dalam menekan kebangkitan ISIS di Suriah, meski kelompok tersebut telah kehilangan sebagian besar wilayah kekuasaannya.
(Redaksi)
