Internasional

Serangan Israel Tewaskan Bos Militer Senior Hizbullah, Ali Tabtabai di Beirut

Mahmoud Qmati Murka, Hizbullah Sebut Israel Telah Melintasi Garis Merah di Beirut

IDENESIA.CO – Serangan udara Israel kembali mengguncang Beirut Selatan pada Minggu (23/11/2025). Serangan mematikan ini terjadi di tengah gencatan senjata yang semakin rapuh di kawasan tersebut. Militer Israel segera mengonfirmasi operasi presisi yang mereka jalankan. 

Mereka menyatakan telah menargetkan dan membunuh pejabat militer Hizbullah paling senior yang tersisa dalam kelompok tersebut, Ali Tabtabai. Laporan juga menyebutkan serangan mematikan ini menelan korban di kalangan warga sipil.

Serangan ini mengejutkan kawasan. Ini menjadi yang pertama dalam beberapa bulan terakhir yang menghantam langsung pinggiran ibu kota Lebanon, sebuah area yang dikenal sebagai basis dan markas kuat Hizbullah. 

Militer Israel merilis pernyataan. Mereka menyebut Tabtabai sebagai pejabat kunci. Tabtabai, kata mereka, mengomandoi sebagian besar unit Hizbullah dan bekerja keras memulihkan kesiapan mereka untuk berperang dengan Israel. Militer Israel mengklaim sukses membunuh Tabtabai dalam operasi presisi yang mereka lancarkan di distrik Haret Hreik.

Hizbullah kemudian segera mengonfirmasi kabar duka tersebut. Mereka membenarkan kematian Ali Tabtabai. Dalam pernyataan resminya, kelompok itu menyebutnya sebagai komandan jihad besar. 

Mereka menambahkan bahwa Tabtabai bekerja untuk menghadapi musuh Israel hingga detik terakhir kehidupannya yang diberkati. Pernyataan tersebut menegaskan level senioritas Tabtabai dalam struktur organisasi Hizbullah, meskipun mereka tidak merinci jabatan spesifik yang ia pegang.

Kematian Tabtabai menjadi pukulan ganda bagi Hizbullah karena ia telah lama menjadi target utama Amerika Serikat. Washington menjatuhkan sanksi kepadanya sejak tahun 2016. Amerika Serikat bahkan menawarkan hadiah menggiurkan hingga US$5 juta bagi siapa pun yang memberikan informasi akurat mengenai keberadaannya. 

Washington menggambarkan Ali Tabtabai sebagai tokoh kunci yang memegang peranan strategis penting di Hizbullah.

Pembunuhan ini menambah panjang daftar pimpinan utama Hizbullah yang Israel singkirkan. Israel telah membunuh sebagian besar pimpinan utama Hizbullah dalam kurun waktu satu tahun terakhir. Ini termasuk pemimpin tertinggi kelompok tersebut saat itu, Hassan Nasrallah. Strategi Israel menunjukkan fokus mereka melumpuhkan kemampuan operasional dan komando tertinggi Hizbullah.

Di lokasi serangan, pejabat Hizbullah Mahmoud Qmati segera meluapkan kemarahannya. Ia mengecam keras tindakan Israel tersebut. Qmati berdiri di dekat bangunan yang hancur lebur akibat serangan udara. Ia menyatakan bahwa serangan yang dilakukan Israel kali ini telah melampaui batas-batas yang selama ini tidak pernah mereka sentuh.

“Israel telah melintasi garis merah,” kata Qmati, seperti dilansir Reuters. 

Pernyataan ini segera menimbulkan kekhawatiran global. Dengan membunuh pemimpin militer senior di jantung Beirut, Israel secara langsung meningkatkan taruhan dalam konflik regional tersebut, membuka potensi eskalasi militer yang lebih besar.

Pembunuhan Tabtabai dipandang sebagai upaya strategis Israel. Mereka berupaya keras memotong kemampuan Hizbullah mereorganisasi unit-unit tempur mereka di Lebanon. Kematiannya, bersama dengan pimpinan senior lainnya, menciptakan kekosongan besar dan tantangan signifikan dalam rantai komando Hizbullah.

Serangan Israel di Beirut Selatan ini langsung memberikan dampak destabilisasi terhadap gencatan senjata yang sudah rapuh antara kedua belah pihak. Gencatan senjata tersebut sejatinya bertujuan meredakan ketegangan di sepanjang perbatasan utara Israel dan Lebanon. 

Kematian Tabtabai kini meningkatkan kekhawatiran komunitas internasional. Banyak pihak takut Hizbullah akan merespons dengan serangan balasan yang jauh lebih keras, yang dapat membatalkan semua kemajuan diplomatis yang telah dicapai.

Militer Israel mempertahankan kebijakan keras mereka. Mereka akan menyerang target Hizbullah di mana pun mereka berada. Israel beralasan, mereka bertindak untuk melindungi warga negara mereka dan mencegah Hizbullah memulihkan kekuatan militer. 

Sebaliknya, Hizbullah menganggap serangan di Beirut ini sebagai deklarasi perang baru. Mereka bersumpah akan membalas dendam atas kematian komandan senior mereka.

Situasi di Timur Tengah kembali memanas. Komunitas internasional memantau perkembangan ini dengan cermat. Mereka khawatir eskalasi konflik dapat berubah menjadi perang berskala penuh di perbatasan Lebanon-Israel. 

Kematian Ali Tabtabai tidak hanya mengubah dinamika internal Hizbullah. Kejadian ini juga secara langsung mempengaruhi keseimbangan militer di kawasan, mendorong potensi eskalasi konflik yang sangat signifikan.

(Redaksi)

Show More
Back to top button