Internasional

Ketegangan Rusia–Ukraina Memanas, Moskow Klaim 91 Drone Serang Kediaman Putin

IDENESIA.CO – Ketegangan geopolitik antara Rusia dan Ukraina kembali meningkat setelah Moskow menuding Kyiv melancarkan serangan drone besar-besaran yang menyasar salah satu kediaman Presiden Rusia Vladimir Putin. Pemerintah Rusia menyebut serangan tersebut melibatkan puluhan pesawat tanpa awak jarak jauh dan terjadi di wilayah Novgorod, memicu reaksi keras dari Kremlin serta respons internasional yang beragam.

Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov menyatakan Ukraina menembakkan 91 drone ke area kediaman Putin antara Minggu malam hingga Senin pagi. Lavrov menegaskan seluruh drone tersebut berhasil ditembak jatuh oleh sistem pertahanan udara Rusia. Pernyataan ini terbilang tidak lazim, mengingat Moskow biasanya enggan mengumumkan secara terbuka dugaan serangan drone yang berkaitan langsung dengan Presiden Rusia.

Rusia Tuduh Ukraina Lakukan Terorisme Negara

Dalam pernyataannya, Lavrov melontarkan tuduhan keras terhadap pemerintah Ukraina. Ia menyebut rezim di Kyiv telah mengalami “kemerosotan total” dan beralih pada praktik terorisme negara. Menurutnya, dugaan serangan drone terhadap kediaman Putin menjadi bukti perubahan strategi Ukraina dalam konflik yang telah berlangsung hampir empat tahun.

“Mengingat kemerosotan total rezim kriminal Kyiv, yang telah beralih ke kebijakan terorisme negara, posisi negosiasi Rusia akan dipertimbangkan kembali,” ujar Lavrov.

Namun, Lavrov tidak menyertakan bukti visual maupun teknis untuk mendukung klaim Rusia tersebut. Pernyataan ini memicu spekulasi luas di kalangan pengamat internasional, terutama karena Rusia menyinggung kemungkinan perubahan sikap dalam proses negosiasi damai yang tengah berlangsung.

Ukraina Bantah Tuduhan, Sebut Klaim Rusia Rekayasa

Pemerintah Ukraina langsung membantah tudingan Moskow. Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menyebut klaim serangan drone ke rumah Putin sebagai rekayasa yang sengaja dibuat untuk mengganggu dan merusak upaya perdamaian.

Zelensky menilai Rusia kerap menggunakan narasi ancaman eksternal untuk membenarkan sikap kerasnya dalam diplomasi internasional. Menurut Kyiv, tuduhan tersebut tidak berdasar dan berpotensi memperkeruh situasi politik global yang sudah tegang.

“Klaim ini sepenuhnya dibuat-buat dan bertujuan menggagalkan proses perdamaian,” tegas Zelensky dalam pernyataan terpisah.

Donald Trump Kritik Ukraina Usai Bicara dengan Putin

Di tengah saling bantah antara Moskow dan Kyiv, Presiden Amerika Serikat Donald Trump justru melontarkan kritik kepada Ukraina. Trump mengungkapkan ketidaksenangannya atas dugaan serangan tersebut setelah melakukan percakapan telepon dengan Vladimir Putin pada Senin pagi.

“Saya tidak menyukainya. Ini tidak baik,” kata Trump kepada wartawan di kediamannya di Mar-a-Lago, Florida.

Trump menambahkan bahwa informasi mengenai dugaan serangan drone tersebut ia peroleh langsung dari Presiden Putin. Ia juga menilai waktu terjadinya insiden tersebut sangat sensitif, mengingat proses perdamaian masih berlangsung.

“Ini adalah periode waktu yang sensitif. Ini bukan waktu yang tepat,” ujar Trump.

Pernyataan Trump tersebut memicu perhatian luas karena menunjukkan perbedaan pendekatan AS terhadap konflik Rusia-Ukraina, terutama di tengah upaya Washington mendorong kesepakatan damai.

Insiden Muncul di Tengah Proses Perdamaian

Laporan Rusia terkait dugaan serangan drone muncul pada momen krusial dalam perundingan perdamaian. Ukraina sebelumnya menyatakan telah menyetujui sekitar 90 persen dari rencana perdamaian yang dirancang Amerika Serikat, termasuk pembahasan mengenai jaminan keamanan pascaperang.

Meski demikian, isu wilayah masih menjadi ganjalan utama. Rusia secara konsisten menolak proposal yang tidak memenuhi tuntutan maksimalisnya, termasuk pengakuan atas wilayah yang telah dikuasainya selama konflik.

Rusia dalam beberapa bulan terakhir juga mengklaim mengalami kemajuan signifikan di medan perang, yang membuat posisi tawarnya semakin kuat dalam perundingan.

Akar Konflik Rusia–Ukraina

Perang Rusia dan Ukraina pecah pada Februari 2022. Kremlin menyebut konflik tersebut sebagai “operasi militer khusus” yang bertujuan mendemiliterisasi Ukraina dan mencegah perluasan NATO ke wilayah timur Eropa.

Sebaliknya, Ukraina bersama negara-negara Eropa menilai perang tersebut sebagai agresi ilegal dan perebutan wilayah yang tidak beralasan. Konflik ini telah menimbulkan kehancuran besar, menewaskan ribuan warga sipil, serta memicu krisis kemanusiaan dan ekonomi di kawasan tersebut.

Perang Rusia-Ukraina kini tercatat sebagai konflik paling mematikan dan terbesar di daratan Eropa sejak Perang Dunia II. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh kedua negara, tetapi juga mengguncang stabilitas politik dan ekonomi global.

Dampak Klaim Serangan Drone terhadap Diplomasi

Pengamat menilai klaim Rusia terkait serangan drone ke kediaman Putin berpotensi memperumit jalannya diplomasi. Tuduhan tersebut bisa memperkeras sikap Moskow dalam negosiasi dan menunda peluang tercapainya gencatan senjata.

Di sisi lain, bantahan keras Ukraina dan reaksi Trump menunjukkan betapa rapuhnya proses perdamaian yang tengah dibangun. Setiap insiden atau klaim sepihak berisiko memicu eskalasi baru di tengah konflik yang belum menemukan titik akhir.

Hingga kini, belum ada verifikasi independen atas klaim Rusia mengenai 91 drone yang ditembak jatuh di wilayah Novgorod. Dunia internasional terus mencermati perkembangan situasi, sembari menunggu langkah lanjutan dari Moskow, Kyiv, dan Washington dalam menentukan arah perdamaian konflik Rusia–Ukraina.

(Redaksi)

Show More
Back to top button