
IDENESIA.CO – Pemerintah Kota Samarinda bergerak cepat untuk memulihkan aktivitas ekonomi di Pasar Segiri pasca musibah kebakaran yang terjadi pada Kamis, 26 Maret 2026 lalu.
Melalui kebijakan terbaru, Pemkot Samarinda akan bangun kembali ratusan kios yang hangus tersebut dengan standar keamanan yang lebih baik. Langkah ini bertujuan untuk memberikan kepastian tempat usaha bagi para pedagang yang terdampak langsung oleh kobaran api di Jalan Pahlawan tersebut.
Wali Kota Samarinda, Andi Harun, menegaskan bahwa pemerintah telah menyiapkan skema perbaikan fisik bangunan secara matang. Berdasarkan hasil rapat koordinasi terbaru, pemerintah mengalokasikan anggaran khusus untuk memastikan fasilitas publik ini kembali berfungsi optimal.
Fokus utama dalam proyek ini adalah penggunaan material bangunan yang mampu bertahan dalam jangka waktu lama serta memiliki ketahanan struktur yang mumpuni.
Konstruksi Kokoh dengan Struktur Beton dan Ulin
Dalam penjelasannya, Andi Harun merincikan bahwa pemilihan material bangunan menjadi prioritas utama agar kejadian serupa tidak memberikan dampak kerusakan yang sama parahnya di masa depan.
Pemerintah tidak ingin sekadar membangun kembali, tetapi juga meningkatkan kualitas keamanan bangunan pasar tersebut.
“Pembangunan Pasar Segiri yang terbakar itu budget-nya sebesar Rp1,1 miliar dan sekarang dalam tahap persiapan. Konstruksi akan memakai campuran antara struktur beton dengan kayu ulin,” kata Andi Harun
Kombinasi antara beton dan kayu ulin merupakan jawaban atas kebutuhan struktur yang kuat namun tetap menyesuaikan dengan karakteristik lingkungan setempat.
Kayu ulin selama ini terkenal sebagai material yang sangat tahan terhadap cuaca dan air, sementara beton memberikan kekuatan fundamental pada fondasi kios.
Pemkot Samarinda akan bangun sarana ini agar para pedagang merasa lebih aman saat menyimpan barang dagangan mereka.
Target Pengerjaan dan Persiapan Lahan
Meskipun dana pembangunan sebesar Rp1,1 miliar telah tersedia di kas daerah, pelaksanaan fisik di lapangan masih menemui beberapa tahapan administratif dan teknis.
Saat ini, Dinas terkait tengah fokus pada pembersihan sisa-sisa puing kebakaran dan perataan tanah. Hal ini sangat penting agar fondasi beton yang akan ditanam memiliki daya dukung yang stabil.
Andi Harun menjelaskan bahwa kecepatan pengerjaan konstruksi sangat bergantung pada kondisi kebersihan lahan di Pasar Segiri.
Pemerintah berkomitmen memulai pembangunan segera setelah kendala teknis terkait pembersihan material sisa kebakaran tuntas secara keseluruhan.
“Jika kondisi lapangan sudah siap, langsung kita kerjakan. Masih ada pekerjaan tanah sedikit lagi untuk memenuhi syarat perataan,” ujar Wali Kota Samarinda tersebut.
Pihak pemerintah daerah terus memantau perkembangan di lokasi setiap harinya. Tim teknis dari dinas terkait juga memastikan bahwa proses perataan tanah memenuhi spesifikasi sebelum material beton masuk ke area pembangunan.
Keseriusan ini menunjukkan bahwa Pemkot Samarinda akan bangun infrastruktur yang tidak hanya cepat selesai, tetapi juga berkualitas tinggi.
Pendataan Pedagang dan Rencana Jangka Panjang
Mengenai detail jumlah bangunan, Asisten II Setda Kota Samarinda, Marnabas Patiroy, memberikan data yang lebih spesifik.
Ia menjelaskan bahwa terdapat 140 kios yang menjadi sasaran utama dalam program perbaikan pasca-kebakaran ini.
Berdasarkan hasil pendataan di lapangan, ratusan kios tersebut sebelumnya dikelola oleh puluhan pedagang yang kini kehilangan tempat berjualan.
“Ada 140 kios yang terbakar dengan total pedagang 26 orang untuk perbaikan pasca kebakaran,” kata Marnabas.
Marnabas menambahkan bahwa target penyelesaian pembangunan kios ini terhitung cukup singkat. Pemerintah menargetkan pengerjaan fisik dapat rampung dalam kurun waktu satu bulan ke depan.
Kecepatan ini sangat diperlukan agar perputaran ekonomi di Pasar Segiri, yang merupakan salah satu pusat logistik utama di Samarinda, tidak terganggu terlalu lama.
Selain perbaikan mendesak tahun ini, pemerintah kota sebenarnya memiliki rencana yang lebih besar untuk Pasar Segiri. Namun, dinamika anggaran daerah membuat pemerintah harus melakukan penyesuaian jadwal.
Rencana renovasi total secara menyeluruh terpaksa mengalami pergeseran jadwal karena adanya kebijakan efisiensi pada pos dana transfer dari pemerintah pusat.
“Seharusnya di 2026 ini renovasinya. Tapi karena ada efisiensi, jadi ada pengurangan dana transfer ke daerah, dan ini membuat kami harus mengatur lagi di 2027 mendatang,” tutup Marnabas Patiroy.
Melalui langkah ini, pemerintah berharap para pedagang dapat bersabar menunggu proses konstruksi selesai. Upaya Pemkot Samarinda akan bangun kembali kios-kios ini menjadi bukti nyata kehadiran negara dalam melindungi sektor ekonomi kerakyatan di Kota Tepian.
Penggunaan material beton dan ulin diharapkan menjadi standar baru dalam pembangunan pasar tradisional di wilayah Samarinda ke depannya.
(Redaksi)


