Internasional

Korea Utara Tegaskan Status Negara Nuklir Tidak Dapat Diubah

IDENESIA.CO –  Pemerintah Korea Utara menyatakan posisi mereka sebagai negara pemilik senjata nuklir sudah tidak dapat diubah lagi. Mereka menegaskan bahwa status nuklir tersebut merupakan kunci utama untuk menjaga stabilitas di kawasan regional. Melalui pernyataan resmi, pihak Pyongyang langsung menolak mentah-mentah seruan Amerika Serikat beserta para sekutunya yang menuntut denuklirisasi penuh.

Pernyataan tegas ini keluar setelah Korea Selatan, Jepang, dan Amerika Serikat menggelar pertemuan trilateral di Tokyo pada Jumat lalu. Dalam pertemuan tersebut, ketiga negara sekutu kembali menekankan komitmen mereka untuk menghapus seluruh senjata nuklir di Semenanjung Korea.

Tanggapan Korea Utara Terhadap Pertemuan Trilateral

Juru bicara pemerintah yang tidak menyebutkan namanya menyampaikan respons tersebut melalui Kantor Berita Pusat Korea (KCNA) pada Minggu (14/6/2026). Pihak Pyongyang menganggap tuntutan para sekutu sebagai hal yang sia-sia.

“Retorika tanpa arti dari Amerika Serikat dan pasukan bawahannya tidak akan pernah menggoyahkan posisi kami. Posisi Korea Utara sebagai negara pemilik senjata nuklir kini sudah tidak dapat diubah,” ujar juru bicara tersebut.

Pejabat itu juga menambahkan bahwa pembahasan mengenai denuklirisasi telah selesai untuk selamanya. Korea Utara menilai tuntutan dari blok Barat sudah tidak relevan dengan kondisi saat ini.

Alasan Penguatan Program Senjata Nuklir

Pihak Pyongyang juga menyoroti aktivitas militer Amerika Serikat di Asia Pasifik. Mereka melihat penjualan sistem persenjataan canggih Amerika Serikat kepada Korea Selatan dan Jepang sebagai ancaman nyata. Oleh karena itu, Korea Utara terus mempercepat program nuklir sebagai langkah pertahanan mandiri.

“Langkah kami dalam mengejar program nuklir merupakan jaminan keamanan yang kuat. Hal ini penting untuk menjaga stabilitas serta perdamaian regional,” lanjut juru bicara tersebut.

Pemerintah Korea Utara memastikan bahwa tekanan dari pihak luar tidak akan membuahkan hasil. Mereka tetap memegang teguh status militer yang ada saat ini.

“Tidak peduli seberapa keras Amerika Serikat, Jepang, dan Republik Korea berdebat, mereka tidak akan pernah mengubah posisi Korea Utara,” tegas pejabat Pyongyang tersebut.

Kegagalan Diplomasi Masa Lalu

Konflik geopolitik ini semakin menajam sejak pembicaraan bilateral dengan Washington menemui jalan buntu pada tahun 2019. Kala itu, pertemuan puncak antara Kim Jong Un dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Hanoi berakhir tanpa kesepakatan apa pun. Sejak momen tersebut, Pyongyang terus memacu pengembangan teknologi senjata pemusnah massal mereka.

Juru bicara pemerintah juga menyindir kegagalan negosiasi masa lalu tersebut dalam rilis resminya.

“Tidak ada satu pihak pun yang dapat mengembalikan isu denuklirisasi. Kesempatan itu telah hilang secara permanen dalam tren perkembangan zaman,” ucapnya.

Sebelum mengeluarkan pernyataan ini, Pemimpin Tertinggi Kim Jong Un sempat menerima kunjungan Presiden China Xi Jinping di Pyongyang. Pertemuan tersebut berlangsung setelah pemimpin China itu menyelesaikan rangkaian konferensi tingkat tinggi bersama Trump dan Putin di Beijing. Dalam laporan media resmi kedua negara, pihak Pyongyang dan Beijing sama sekali tidak menyinggung masalah penghapusan nuklir.

Korea Utara sendiri sudah berulang kali menegaskan bahwa mereka tidak akan pernah melepas aset nuklir tersebut. Pihak militer menganggap senjata pemusnah massal ini sebagai instrumen krusial untuk mencegah agresi militer asing. Bahkan, saudara perempuan Kim Jong Un, Kim Yo Jong, ikut memperkuat narasi tersebut pada awal bulan ini. Kim Yo Jong menyebut kebijakan kepemilikan senjata nuklir ini sebagai sebuah garis yang tidak akan pernah mundur.

(Redaksi)

Show More
Back to top button