Jumat, 31 Januari 2025

Sosok Wakil Presiden Amerika Serikat, JD Vance yang Pernah Bandingkan Donald Trump dengan Adolf Hitler

Selasa, 28 Januari 2025 20:12

DIWAWANCARAI - Wakil Presiden Amerika Serikat dari Partai Republik di Senat AS, JD Vance. REUTERS

IDENESIA.CO - Donald Trump, resmi menjadi Presiden Amerika Serikat dari Partai Republik, berpasangan dengan JD Vance sebagai wakil presidennya.

Pemilihan Vance, seorang senator dari Ohio yang sebelumnya dikenal sebagai salah satu pembela Trump yang paling gigih, menarik perhatian banyak pihak. Ini menandai puncak dari transformasi politik Vance yang sebelumnya pernah dengan keras mengkritik Trump pada masa pemilihan presiden 2016.

Pada saat itu, Vance—yang dikenal lewat buku terlarisnya Hillbilly Elegy—tidak segan-segan untuk menyebut Trump sebagai "idiot" dan "tercela." Bahkan, ia secara pribadi membandingkan Trump dengan Adolf Hitler, sebuah pernyataan yang menyulut polemik di kalangan publik. Keputusan Vance yang kini menjadi salah satu sekutu terdekat Trump menimbulkan banyak pertanyaan tentang apa yang memotivasi perubahan sikap politiknya.

Lahir di Ohio selatan pada 2 Agustus 1984 dan dibesarkan di Kentucky, Vance memulai kariernya sebagai anggota Korps Marinir sebelum menempuh pendidikan di Universitas Negeri Ohio dan kemudian meraih gelar hukum di Yale.

Setelah bekerja sebagai kapitalis ventura, Vance memasuki dunia politik dan segera menjadi perhatian publik setelah menerbitkan Hillbilly Elegy pada 2016, yang menceritakan kisah hidupnya yang penuh perjuangan di tengah kemiskinan kelas pekerja di Rust Belt, serta pandangannya tentang kesulitan yang dihadapi masyarakat Amerika yang mendukung Trump.

Namun, perjalanan Vance yang semula kritis terhadap Trump mulai berubah. Pada 2021, menjelang pencalonannya untuk kursi Senat Ohio, Vance mengakui bahwa dirinya telah salah menilai Trump di masa lalu.

Ia menghapus cuitan-cuitan kontroversial yang pernah dibuatnya mengenai Trump dan mengungkapkan penyesalan atas pandangannya yang dulu. Vance kini menganggap Trump sebagai presiden yang baik dan menyebut dirinya sebagai pendukung setia mantan presiden tersebut.

Perubahan sikap Vance ini memunculkan berbagai spekulasi tentang apakah motivasi politiknya lebih didorong oleh opportunisme pribadi atau keyakinan ideologis yang tulus. Beberapa pihak, baik dari Partai Demokrat maupun Partai Republik, mempertanyakan integritas Vance yang tampak berbalik arah begitu cepat.

Namun, bagi Trump dan para penasihatnya, transformasi ini dianggap sebagai hal yang sah dan mencerminkan keyakinan politik yang selaras dengan populisme ekonomi dan isolasionisme yang selama ini dibawa Trump.

Vance, yang kini telah menjadi senator AS dari Ohio, menginginkan untuk melanjutkan perjuangannya melalui kolaborasi dengan Trump.

Vance telah menjadi sekutu kuat mantan presiden tersebut. Menjelang kampanye Senatnya, Vance meminta maaf karena sebelumnya menyebut Trump "tercela."

"Seperti banyak orang, saya mengkritik Trump pada tahun 2016," kata Vance kepada  CNN pada tahun 2021. "Saya menyesal telah salah menilai orang itu," kata Vance, seraya menambahkan bahwa menurutnya Donald Trump adalah presiden yang baik. 
 
 (Redaksi)
 

Tag berita:
IDEhabitat